Tragedi Tiro: Pelumpuhan GAM atau Penindasan Warga Sipil?

Tanpa diadili empat orang di Tiro ditembak pagi itu. 

Sebuah sungai besar bernama Krueng Kakue mengaliri Desa Daya Kampung Baro, Kecamatan Tiro, Pidie, Aceh. Jaraknya sekitar 1 jam dari Kota Sigli pusat Kabupaten Pidie jika ditempuh dangan kendaraan. Krueng Kakue adalah marka kesuburan tanah pemukiman itu. Makanya sebagian besar masyarakat hidup dengan menggarap lahan sawah. Di tahun 1988, oleh PT. Istana Karya yang berupa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dibangun sebuah bendungan untuk mengaliri 6.924 hektare sawah yang tersebar di Kecamatan Tiro. Sebagian masyarakat turut membangun bendungan itu.

Kira-kira pukul enam pagi di tahun 1989, terdengar suara teriakan dan bunyi senjata di Kampong Baro. Belakangan diketahui bahwa itu adalah operasi militer yang dikirim mantan Presiden ke-2 RI, Soeharto ke wilayah Aceh yang dianggap basis dari Hasan Tiro. Tentara datang dengan membabi buta. Bertanya dengan membentak. Tamu tak diundang masuk tanpa salam. Sekelompok tentara mendatangi pemukiman Tiro, menelusuri setiap lorong dengan rentetan senjata yang ditembakkan ke atas sebagai perintah untuk keluar dan ancaman tidak akan segan-segan untuk menembak jika tidak menuruti kehendak mereka. Suara tembakan itu diiringi teriakan keras perintah kepada seluruh warga untuk berkumpul di meunasah.

Tentara menggiring warga sipil ke sebuah lapangan di pinggir jalan, tidak jauh dari meunasah. Ada puluhan tentara. Orang-orang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin dan usia. Perempuan, laki-laki, dan anak-anak. Sebagian anak berbaris di barisan laki-laki dewasa. Aisyah menyaksikan tentara memisahkan warga dengan cara mendorong, menendang dan menumbukkan moncong senjata dari belakang untuk mengatur barisan para lelaki dan anak-anak. 

Barisan perempuan berjarak delapan meter dari laki-laki. Dari jarak itu mata Aisyah merekam dengan jelas empat orang lelaki dipisahkan dari kerumunan lainnya. Di antara orang itu, ada suami dan dua orang anaknya. Sebagian tentara mengepung sambil memegang senjata. Yang lain memenuhi jalanan. 

Saat kedua anaknya memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), tendangan keras dari kaki bersepatu laras menghajar mereka. Aisyah dan wanita lainnya disuruh pulang. Ia menolak. Ada firasat buruk ia rasakan akan menimpa keluarganya. Itu adalah hari terakhir Aisyah melihat suami dan kedua anaknya. 

Mereka adalah Tengku Binseh, Izhak, M.Ali, Marzuki yang berulang kali dipukuli. Kali ini dipaksa tiarap di tanah. Seorang prajurit mengambil kain, menutup mata keempat manusia itu. Penembakan dimulai. Moncong senjata diarahkan ke kepala M.Ali, sekitar 30 sentimeter dari daun telinganya.

“DOOOOORR!!,”  suara senjata menggaung di udara, terdengar hingga ke telinga mereka yang telah kembali ke rumah.

Seketika M.Ali tewas. Menyusul Izhak, Marzuki dan Tengku Binseh dibunuh dengan cara yang sama. Mata Aisyah merekam penembakan itu. Di sana delapan meter dari tempatnya berdiri, ia saksikan suaminya, Tengku Binseh belum mati oleh tembakan. Suaminya sekarat, mengucap doa dengan terbata-bata. Belum selesai ia berdoa, tembakan kedua mengakhiri napasnya.

Hari itu sekaligus menjadi pertanda bahwa Kecamatan Tiro telah dikuasai aparat.

Demikian Aisyah bercerita. Wajahnya lemas layu. Matanya berkedip-kedip, ada air di sana yang sesekali ia seka menggunakan kerudung. Beberapa kali ia berhenti. Menarik napas panjang, lalu melanjutkan ceritanya. Di belakangnya berdiri sebuah gubuk kayu beratap alang-alang. Ia tidur disitu, tanpa suami dan anak.

Setelah hari itu, kelompok demi kelompok tentara memasuki kecamatan Tiro. Peristiwa demi peristiwa pun terjadi. Tahun 1990 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) memasuki Kecamatan Tiro. Bunyi hentakan sepatu tentara adalah pertanda bahaya bagi masyarakat. Jika terdengar kabar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) akan memasuki pemukiman, masyarakat yang berani dan nekat akan mencoba melarikan diri dengan mengemas barang-barang mereka ke dalam karung, bersiap lari mengungsi. 

Masyarakat secara sepihak dituduh, ditangkap sekalipun tidak ada bukti yang menyatakan mereka bersalah. Begitu ditangkap, mereka dipukuli, ditembak, dibunuh. Shamsul Kabir adalah salah satu dari korban yang dipukuli dan ditembak. Tentara juga menginjak-injak dirinya di depan keramaian. Ia bercerita sembari memperlihatkan bekas luka tembak di paha kanan, dari sisi kanan yang tembus ke sisi kiri.

Pos tentara tersebar di setiap desa. Mereka menempati rumah-rumah yang tidak berpenghuni menjadi pos tentara. Salah satu pos yang paling sering disebut masyarakat dengan cerita penyiksaannya yang terparah adalah Pos Pinto Sa. Di situlah Pos Kopassus yang tadinya adalah gedung milik pekerja PT Istaka Karya, yang sedang mengerjakan proyek pembangunan bendungan. Secara administratif, tempat itu berada di Desa Daya Kampung Baro, Kecamatan Tiro, Pidie, Aceh. Jaraknya sekitar 100 meter dari bendungan.

Sekarang yang tersisa dari pos itu hanya puing-puing yang berserakan di atas lantai sisa bangunan yang sudah tidak berdinding. Sekarang digantikan oleh beberapa poho, yang salah satunya tumbuh tepat di antara lantai yang semennya hancur digerus lumut dan waktu.

Dahulu, siang hari masyarakat atau pekerja yang melewati tempat itu melihat orang berdiri dijemur dengan penjagaan tentara. Pada malam hari, terdengar suara teriakan histeris meminta tolong, atau teriakan yang mengindikasikan ancaman, dan bunyi senjata. Mereka tidak berani melihat atau membicarakannya. Namun mereka tahu, orang-orang itu secara sepihak dituduh memiliki keterkaitan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan di bawa ke sana. Dengan media senjata, sepatu laras, kursi setrum, mereka dipaksa mengaku. 

Saya di panggil ke Pinto Satu tiga hari. Selama tiga hari itu kami disiksa oleh Kopassus. Kami di setrum, ditelanjangi. Sesudah itu saya keguguran!,” tutur Pocut salah satu korban penyiksaan, kesedihan dan kemarahan tergambar jelas di wajahnya.

Awalnya Pocut didatangi oleh tentara di kediamannya. Ia dipanggil untuk datang kesebuah kamp tentara di dekat rumahnya. Di sana, ia diintrogasi, dipaksa mengakui memiliki hubungan dan memasok logistik untuk GAM. Saat itu Pocut tengah mengandung, bayu yang dikandungnya masih berusia 3 bulan. 

“Satu minggu aku dibawa kesini, awalnya tidak ada apa-apa. Setelah itu dipaksa mengaku membeli beras untuk GAM,” ucapnya.

Beberapa hari kemudian Pocut dipanggil lagi. Ia direndam di sungai. Pocut masih dengan jawaban yang sama, karena memang menurutnya ia tidak ada keterlibatan apa pun dengan GAM.

Keesokan harinya ia dipanggil ke Pos Pinto Sa. Kali ini ia ditahan selama 3 hari, dengan siksaan. Seorang tahanan disuruh melucuti hijabnya, membuka kancing kemeja, dan seluruh pakaian hingga tubuhnya tanpa sehelai benang. Dalam keadaan telanjang bulat Ia disuruh duduk disebuah kursi yang nantinya akan dialiri listrik. Kedua tangannya diikat ke belakang, kembali ia dipaksa mengaku.

Setiap jawaban berarti satu cambukan rotan mendarat di punggungnya. Kedua ibu jari kakinya diikat dengan kabel, yang nantinya akan dialiri listrik. Pada bagian badan, jepitan besi perantara arus listrik dijepit secara bergantian mulai dari perut, lalu diberi arus listrik. Jepitan besi itu dipindahkan pada ketiak, hingga ke kemaluannya. Pocut diestrum oleh orang yang harusnya menjadi pelindung. 

Pasca penyiksaan itu, anak dalam kandungannya mati. Pocut keguguran.


Ditulis oleh Aldryan Ricky Butar-Butar

Tinggalkan Balasan