Adalah rumah bangsawan (uleebalang) Aceh yang dibangun pada tahun 1818 oleh Ampon Raja Lamkuta ditengah lahan seluas 150×80 m2. Pada masa penjajahan oleh Belanda, rumah tersebut sering digunakan sebagai tempat pengatur strategi perang yang diprakarsai oleh Raja Lamkuta bersama rekan-rekan perjuangannya. Sejak April 1990 Rumoh Geudong digunakan sebagai pos militer (Pos Sattis). Pada 20 Agustus 1998, rumoh geudong dibakar massa. Kejadian tersebut tepat setelah kembalinya tim yang dipimpin Baharuddin Lopa yang datang berkunjung ke Rumoh Geudong untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM di sana. Pengurusan Rumoh Geudong sekaran ini dipercayakan kepada Cut Maidawati.

Memorialisasi Rumoh Geudong

Masyarakat merasa perlu Rumoh Geudong dibangun kembali supaya menjadi sejarah untuk anak-anak generasi selanjutnya mengetahui sehingga konflik tidak terulang lagi. KKR Aceh Setuju dengan ide dan permohonan masyarakat korban untuk membangun memorialisasi di Rumoh Geudong. Ini bertujuan agar masyarakat dan…

Read More

Gallery Rumoh Geudong

Rumoh Geudong Sebelum dijadikan Pos Sattis oleh Kopassus. Septic tank dibelakang Rumoh Geudong merupakan salah satu penyiksaan. Bekas Sumur yang ada Rumoh Geudong. Rumoh Geudong yang dibakar masa pada 12 Agustus 1998. Masyarakat mendirikan memorialisasi untuk mengenang tragedi rumoh geudong…

Read More