Roza Merindukan Ayah

Muhammad Zein bekerja sebagai pedagang dan petani kopi. Ia juga ketua pekerja bongkar muat barang di terminal. Selain itu, ia aktif di organisasi massa Pemuda Pancasila dan masuk dalam tuha peuet (perangkat desa) yang mewakili orang Aceh di Gayo.

Pada Mei 2001, sekitar pukul lima sore, Zein pergi ke kebun kopi miliknya. Dua hari kemudian terjadi pembantaian terhadap suku yang tinggal di kawasan itu. Pelakunya, orang-orang tak dikenal.

Saat kejadian Pepedang berlangsung, Zein tengah dalam perjalanan untuk mengantar beras dan rokok kepada penjaga kebun kopinya. Di malam sebelum kejadian, lelaki ini menginap di rumah temannya. Jarak rumahnya ke kebun kopi memakan waktu enam jam perjalanan.

Istrinya melarang Zein berangkat sore itu. Banyak tentara telah masuk ke desa. Mobil menuju kawasan kebun mereka pun sudah tak ada. Namun, ia menenangkan sang istri dengan mengatakan bahwa ia pergi tak sendirian. Ada enam orang kawan ikut bersamanya. Tapi untuk sampai ke kebun mereka, ia memang harus menempuh perjalanan sendiri.

Roza masih belajar di kelas tiga sekolah dasar ketika ayahnya hilang. Ia sering bertanya pada ibunya, “Kapan ayah akan pulang? Ayah pergi ke mana? Kenapa lama pulangnya?” Ibu mengatakan bahwa ayahnya sedang pergi bekerja.

Ibunya pernah menceritakan mimpi aneh ayah sebelum hilang.

“Beliau bermimpi menjadi raja dan banyak yang menggotong beliau selayaknya raja dan melihat ibu sambil nangis. Ibu melihat bapak menangis dan hanya diam saja,” tutur Roza.

Sesudah Zein hilang, istri dan anak-anaknya sempat mengungsi ke sebuah meunasah di Pondok Baru selama dua hari, kecuali Roza. Putri bungsunya ini berada di Pidie, di rumah ibunda Zein. Di hari ketiga, anak tertua Zein datang dari Pidie ke Pondok Baru untuk menjemput ibu serta adik-adiknya.

“Tapi ibu masih belum mau pulang karena masih menunggu kedatangan bapak dan akan pulang dengan bapak nantinya ke Pidie,” kata Roza.

Pasca peristiwa itu, kehidupan keluarga ini hancur dan cerai berai. Selama ini ayah mereka yang jadi tulang punggung keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan membayar utang ayah, ibu kemudian menjual rumah mereka di Pondok Baru. Sisa uang dari penjualan rumah digunakan ibunya untuk membuka kios kecil.

Kakak Roza yang tertua membantu ibunya dengan berjualan pakaian bekas. Kini ibu mengambil alih tanggung jawab ayahnya sebagai kepala keluarga, termasuk membiayai anak-anaknya yang masih sekolah.

“Bapak bagi saya merupakan sosok yang sangat baik dan penuh pengertian. Bapak dalam kehidupan sehari-harinya selalu bergaul dengan banyak banyak orang dan berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang siapa dia dan dari mana dia,” kisah Roza.

Saat ia mengetahui ayahnya hilang, ia amat terpukul, “Saya sangat sedih, sehingga saya tidak sekolah padahal saat itu saya sedang ujian.”

Ibunya juga sempat sakit-sakitan.

Pada 2003 Roza sempat pindah ke sekolah lain. Ibunya tidak mampu membayar uang sekolahnya. Pihak sekolah yang lama tak mau memberi keringanan pembayaran. Sebab Roza dianggap anak yatim, bukan anak kurang mampu. Ia mencoba mengurus beasiswa anak berprestasi untuk melanjutkan sekolahnya. Sebagai anak korban konflik, ia tak mendapat bantuan apa-apa. Konsentrasi belajarnya ikut turun. Dulu ia selalu masuk peringkat sepuluh besar. Kejadian itu membuatnya tak lagi masuk dalam peringkat tersebut. Tapi ia beruntung memiliki kawan-kawan baik. Mereka terus memberinya semangat hidup yang

Kerinduan Roza pada ayahnya membuat ia sering mimpi bertemu ayahnya dan bahkan, mengalami peristiwa ganjil. Suatu kali ia terpilih mengikuti perkemahan pramuka di Cibubur, Jawa Barat, dan sempat melihat orang yang mirip ayahnya. Ketika pulang ke Aceh, ia menceritakan kejadian tadi pada ibunya.

“Umi (ibu) mengatakan bahwa itu hanya halusinasi saya saja,” ujarnya

Tinggalkan Balasan