Menanti Sebuah Kepastian

Di malam hari kampung Alue Abeh terasa sunyi. Ia jadi medan gerilya strategis bagi Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Letaknya yang dekat pegunungan memudahkan orang GAM keluar masuk hutan dan mempertahankan diri dari serangan musuh. Akibatnya, Alue Abeh masuk kategori daerah “hitam” dalam catatan Tentara Nasional Indonesia atau TNI.

Untuk mempersempit ruang gerak GAM, tentara mendirikan pos mereka di berbagai tempat. Di perbatasan Pulo le dengan Drien Bungkok, di desa Ladang Baro berdiri Pos TNI 744. Di lereng bukit di samping tower di desa.

Gunung Buloh ada pos tentara. Di desa Keude Tuha juga ada pos tentara. Posisi kampung Alue Abeh berada di tengah-tengah kepungan pos. Tentara ini. Nur Asiah tinggal di Alue Abeh. Usianya 48 tahun. Ia Dan suaminya dikaruniai tiga Anak. Si sulung, Lilis Suryani, lahir pada 1983. Irma lahir tiga tahun kemudian Rahmat Nazar, si bungsu, kini 17 Tahun dan tengah belajar di Sekolah Menenga Atas Fajar Hidayah.

Pada 2000, ia menikahkan Lilis dengan Anton panglima GAM Daerah Tiga Meurehom Daya. Sebagai panglima, Anton jadi target tentara. Setelah menikah, Lilis melahirkan seorang putra yang diberi nama Andika. Tapi perang antara GAM dan TNI membuat Lilis harus meninggalkan kampungnya. Ia ikut sang suami bergerilya, masuk hutan. Sejak itu Nur Asiah jarang bertemu putrinya.

Jalan utama yang menghubungkan Alue Abeh dengan desa lainnya sering dilalui tentara. Di jalan ini, tiap melewatinya, Nur Asiah melihat hamparan sawah, ladang, rawa yang dipenuhi semak belukar nun di desanya. Di kejauhan juga tampak sebuah bukit. Bermacam tanaman dan satwa liar tumbuh dan menghuni bukit itu. Warga kampung mencari nafkah di sana. Mereka menanam pohon nilam, durian, cabai, karet, dan berbagai tanaman lain.

Nur Asiah dan suaminya memiliki sepetak kebun di kaki bukit. Mereka menanam pohon karet di kebun itu. Namun, konflik bersenjata antara GAM dengan polisi Indonesia makin memanas di kampungnya. tentara dan

“Sehingga untuk mencari rezeki sudah tidak tenang lagi. Jangankan pergi ke kebun. Berdiam di rumah saja rasanya sudah tidak nyaman” tuturnya pada saya.

Ia pun mengajak suaminya pindah ke desa lain. Tapi suaminya- menolak. Lelaki ini merasa lebih nyaman tinggal di rumah sendiri, meski berisiko pada keselamatannya.

“Suami saya dikenal di kampung sebagai toke (tauke = juragan) getah. Ya, sebagai toke getah kecil-kecilan. Sekedar cukup buat makan. Sehari-hari ia juga bekerja menyadap getah di kebun sendiri” kata Nur Asiah.

Ilyas Isa, suaminya, berusia 43 tahun saat itu. Orang kampung akrab memanggilnya “Bang Ilyas”

“Dia orangnya sangat penyanyang. Pengertian. Tidak gampang marah. Bertanggung jawab” tutur perempuan yang merasa bangga pada suaminya ini.

Menjelang bulan Ramadhan, ia melihat perubahan pada raut muka suaminya. Lelaki itu tampak gelisah dan memendam pikiran yang tak kunjung dibaginya pada sang istri. Pada hari keenam belas Ramadhan, Ilyas menyerahkar sejumlah uang kepada Nur Asiah untuk membeli pakaiac anak-anak mereka.

“Buat saya tidak dibeli baju baru?” kata Nur Asiah, dengar nada bergurau.

“Buat gata (kamu) nanti kalau ada uang” jawab sang suami.

Keesokan paginya, di hari ketujuh belas Ramadhan, 9 Oktober 2004, Ilyas berpamitan dengan istrinya untuk pergi ke kebun karet mereka. Ia hendak menyadap getah karet. Ia membawa sebilah parang, dua ember tempat penampung getah, dan satu pisau penyadap getah.

Di bulan puasa, kedua pihak yang berperang ternyata tak menghentikan serangan-serangan mereka. Padahal ajaran Islam menyebutkan orang tak boleh berperang di bulan suci. Baru saja Ilyas berangkat ke kebun, tiba-tiba terdengar tembak-menembak antara GAM dengan TNI di perbatasan Alue Abeh dengan Tui Kaye. Suara rentetan senjata memecah kesunyian pagi.

Setelah tembak-menembak  selesai, tentara masuk kampung Mereka memerintahkan seluruh warga berkumpul di meunasah.

“Meunasah terletak di samping rumah saya. Di depan meunasah ada got tempat pembuangan air. Kaum perempuan dikumpulkan dalam meunasah. Sedangkan kaum laki-laki, tua-muda disuruh merayap dalam got. Yang laki-laki sama rata mendapat pukulan. Tendangan” tutur Nur Asiah.

Suasana bulan Ramadhan pun jadi mencekam.

Dengan hati berdebar dan tubuh gemetar, Nur Asiah memberanikan diri menghampiri tentara. Ia minta izin menjemput sang suami di kebun. Perempuan ini khawatir akan keselamatan jiwa suaminya.

“Saya bilang sama tentara mungkin suami saya tidak berani pulang. Tolong izinkan saya untuk menjemputnya sebentar. Mendengar permintaan saya, tentara semakin marah. Saya disuruh masuk lagi ke dalam meunasah. Disuruh berdoa saja,” katanya.

Hingga menjelang malam suami Nur Asiah tak kunjung pulang ke rumah. Ia makin risau. Ia mulai menanyai orang orang kampung, kalau-kalau di antara mereka ada yang melihat suaminya. Tapi tak seorang pun ada yang melihat Ilyas.

Malam masih mencekam. Tentara melancarkan operasi di mana-mana. Orang-orang tak berani melakukan kegiatan apa pun. Jam jaga malam diberlakukan.

Pikiran Nur Asiah makin kalut. Hatinya galau. Namun, ia mencoba pasrah kepada Allah dengan berdoa memohon keselamatan Ilyas.

Tiga hari kemudian ia memberanikan diri pergi ke kebun. Jarak kebun dari rumahnya sekitar dua jam berjalan kaki. Setiba di kebun ia melihat ember penampung getah dan pisau penyadap yang dibawa Ilyas berada percis dibawah pohon karet.

Ia langsung histeris. Ia meraung-raung memanggil suaminya dalam duka dan pedih yang amat sangat. Air mata terus mengalir dan membasahi kedua pipinya. Setelah itu bibirnya terkatup, tak mampu berkata-kata. Sekujur tubuhnya terasa kaku.

Dalam keadaan terguncang itulah, ia pulang ke rumah dan menemui anak-anaknya. Ia dan anak-anaknya hanya mampu saling berangkulan. Mereka kemudian berdzikir.

Suaminya sama sekali tak meninggalkan jejak. Ia tak tahu harus mengadu kepada siapa. Kesedihan terus tersimpan dalam sanubari. Tapi ia terus berikhtiar mencari suaminya.

Ketika ia mengadakan doa selamat untuk suaminya, tak seorang pun warga kampung yang diundangnya datang.

“Warga takut datang ke rumah saya, karena rumah saya sering dipantau tentara,” kisah Nur Asiah.

Setelah lima bulan suaminya hilang, Nur Asiah ditangkap tentara.

Pemicunya adalah penyerangan GAM terhadap TNI di simpang Babah Cepan di daerah Krueng Inong. Kontak senjata itu menimbulkan korban di pihak tentara. Tentara marah, karena temannya tewas. Sasaran kemarahan mereka dilampiaskan pada warga.

Tentara masuk kampung. Mereka mendatangi rumah Nur Asiah dan memintanya datang ke pos batalion Raider. Pos operasi ini terletak di rumah penduduk di desa Tui Kaye, kecamatan Panga. Pos ini sifatnya sementara.

“Menantu ibu sudah menyerang anggota kami. Ibu harus ke pos sekarang” kata seorang anggota pasukan Raider yang diingat Nur Asiah bermarga Lubis.

Dalam hati Nur Asiah tak terima diperlakukan seperti itu.

“Apa hubungan menantu dengan saya. Padahal saya tidak pernah berencana mengawinkan Lilis dengannya untuk membunuh tentara. Perkawinan Lilis dengan Anton hanyalah karena takdir. Jodoh. Kalau perkawinan Lilis dengan Anton bermasalah bagi tentara, jangan salahkan saya. Salahkan cinta mereka berdua. Atau salahkan Tuhan saja” batinnya.

Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Diambilnya sepeda bututnya dan dikayuhnya kencang sepeda itu ke pos tentara di Tui Kaye. Putrinya, Irma, yang cemas melihat ibunya berangkat sendirian, mengikuti arah sepeda ibunya dengan bersepeda motor. Saat ia tiba di pos tentara, Irma pun berdiri di belakangnya.

Ia dituduh membantu GAM. Tentara tak mau mendengar penjelasannya. Akibat tuduhan tersebut, Nur Asiah dan Irma ditahan di pos selama beberapa jam. Mereka tak disiksa, sebagaimana biasanya orang yang ditangkap dan ditahan tentara. Mereka juga bebas tanpa syarat. Tapi tak berarti Nur Asiah dan anak-anaknya bisa tenang. Tentara sering mendatangi rumahnya, bahkan bertindak semena mena.

PADA Februari 2005, Lilis keluar dari persembunyiannya di hutan. Ia turun ke desa Curek, kemudian pulang ke rumah. Namun kepulangannya diketahui anggota Satuan Gabungan Intelijen atau SGI. SGI mendatangi rumah Nur Asiah, lalu membawa Lilis dan menahannya. Saat itu Lilis sedang mengandung anaknya yang kedua.

“Saya rela ditahan, asal ayah saya dibebaskan. Karena yang salah itu bukan ayah saya. Saya yang salah karena suami saya orang GAM. Tapi kenapa ayah saya yang ditangkap. Saya yang bertanggung jawab atas semua ini, bukan ayah saya kata Lilis.

Lilis sudah tahu dari awal bahwa ayahnya ditangkap tentara la berharap ayahnya dibebaskan bila ia menggantikannya sebagai tahanan. Harapan itu tak terwujud. Ia malah jadi bulan-bulanan tentara.

Setelah itu SGI mengasingkan keluarga Nur Asiah ke sebuah rumah kosong di daerah Calang. Ia dan anak anaknya jadi tawanan rumah SGI.

“Rumah tempat saya tinggal jauh dari rumah penduduk Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya setiap malam menggoreng keripik pisang. Setiap pagi, Irma mendayung sepeda pergi menjual keripik pisang ke kedai-kedai yang terletak puluhan kilo (meter) dari tempat kami tinggal. Dan hasil penjualan keripik pisang kami makan” kisah Nur Asiah

Suatu malam ia menerima tamu seorang pemuda, yang ternyata utusan suami Lilis. Pemuda ini datang sembunyi bunyi. Ia memberi pakaian titipan dari suami Lilis. Begitu menerima pakaian tersebut Lilis langsung histeris, menangis sejadi-jadinya. Lilis mengira suaminya sudah meninggal. Ternyata ia keliru tafsir. Titipan itu untuk anak kedua yang sedang dikandung Lilis. Ketika mendengar penjelasan anak muda tadi, Lilis tidak mampu menahan air matanya. Lilis juga menganggap mungkin ini pemberian terakhir suaminya.

Setelah GAM dan pemerintah Indonesia menandatangani Perdamaian Helsinki pada 15 Agustus 2005, Nur Asiah pulang ke Alue Abeh.

Ia mulai menata Kembali hidupnya. Ia mulai bersemangat menghadapi hidup, meski suaminya hilang.

“Dalam masa damai orang mulai lebih berani terbuka. Semua masalah kejahatan masa konflik mulai sering terdengar dibicarakan di kedai-kedai kopi” tuturnya.

Orang-orang bercerita tentang orang yang hilang diculik maupun yang mati akibat siksaan di tahanan. Dari cerita-cerita inilah ia mendengar bahwa suaminya pernah ditahan di pos TNI 744, yang terletak di desa Ladang Baro. Kini pos tentara itu sudah rata disapu tsunami. Seseorang yang dipanggilnya “Bang Lah” bercerita soal Ilyas.

Setelah kontak tembak di bulan puasa, Bang Lah mengemudi mobil di jalan desa. Tentara mencegatnya. Mereka memerintahkan beberapa warga naik ke bak mobilnya. Beberapa tentara juga ikut naik dan menyuruhnya mengantar mereka ke pos TNI di Ladang Baro. Waktu tiba di pos itu, ia melihat Ilyas turun dari mobil sambil dipukuli. Ilyas didorong ke dalam pos. Setelah itu ia tak tahu apa-apa lagi. Tentara memintanya langsung meninggalkan pos.

“Bang Lah adalah warga kampung yang sehari-hari bekerja sebagai sopir. Dulu pada masa konflik dia tidak berani menceritakan kejadian ini,” kenang Nur Asiah.

Selain dari lelaki itu, Nur Asiah juga memperoleh cerita dar Nyek Andah. Nyek Andah seorang warga yang bekerja membawa minyak nilam dari gunung dengan rakit dari aliran sungai Krueng Bunta.

Suatu ketika Nyek Andah dan sejumlah warga diminta tentara mengantar mereka ke gunung. Saat itu tentara tengah melakukan operasi besar-besaran untuk membasmi GAM. Dalam rombongan tentara ada seseorang warga yang dipakaikan mantel loreng. Wajahnya tidak terlalu jelas. Setiba di pinggiran sungai mereka beristirahat. Di situ pula Nyek Andah melihat wajah Ilyas dengan jelas. Tapi Nyek Andah tidak bisa menegurnya. Tentara tidak mengizinkan warga berbicara dalam bahasa Aceh. Setelah beristirahat, pasukan pun melanjutkan perjalanan. Setiba di pucuk Krueng Sabee, Nyek Andah melihat tentara memukul pundak Ilyas dengan kayu. Namun, ia kemudian terpisah dari Ilyas dan ia tak lagi tahu keberadaannya.

“Sampai sekarang suami saya masih hilang. Entah masih hidup. Entah sudah meninggal. Hanya Tuhan Tapi saya berharap dapat menemuinya lagi meski sudah menjadi kerangka,” kata Nur Asiah.

Empat tahun sudah Aceh damai, tapi tak ada itikad baik pemerintah untuk membantu warga mencari anggota keluarga mereka yang hilang di masa konflik.

Pemerintah memberi dana diyat kepada korban konflik, sebesar Rp 3 juta. Uang itu tak cukup untuk membiayai kehidupan keluarga Nur Asiah dan keluarga lain yang senasib. Terlebih lagi, uang tak akan sanggup mengganti kehadiran orang-orang rimbanya.

“Untuk memenuhi kebutuhan hidup saya harus bekerja keras. Saya menggarap sawah dan ladang sendiri. Mulai dari membajak sampai musim panen. Kadang-kadang anak anak ikut membantu. Alhamdulilah sekarang sedang menanti musim panen” kata Nur Asiah.

Ladangnya jauh dari permukiman. Di pinggir ladang itu ilalang tumbuh menyemak. Gemerisik dedaunan rumbia terdengar seperti nyanyian. Binatang seperti babi hutan banyak di sini. Babi suka menggasak tanaman padi. Kalau ia tidak menjaga padi dari serangan babi dan burung, panen bisa gagal. Ia dan keluarganya akan kelaparan.

Setiap hari ia pergi ke ladang. Ketika hari menjelang senja, ia pulang sebentar ke rumah. Ia shalat maghrib dan berdoa untuk suaminya serta memohon Allah memberitahu di mana lelaki yang dikasihinya itu berada.

Ketika malam datang, ia kembali lagi ke ladang Jalan menuju ladang sangat gelap. Rumput-rumput liar tumbuh sepanjang jalan. Ia harus membawa senter untuk menerang langkah-langkahnya. Selain itu, ia juga membawa sebilah parang untuk berjaga-jaga dari bahaya. Cucunya, Annisa sering minta ikut serta. Annisa anak kedua Lilis dan Anton.

Sejak orangtuanya bercerai setahun lalu, Annisa lebih menghabiskan waktunya bersama sang nenek. Bocah memanggil neneknya, Mak Nu. Usianya tiga tahun

“Anaknya baik. Tidak rewel. Saya senang membawanya bermalam di ladang. Kalau tidak ditemani dia, saya sendiri bermalam di ladang,” katanya, tentang sang cucu.

Nur Asiah dan cucunya bermalam di sebuah jambo (gubuk kebun) selebar 1×2 meter persegi, terbuat dari kayu. Sebagai penerang di malam hari Nur Asiah menyalakan lentera kecil. Mereka tidur beralas tikar usang. Jarak kebun Nur Asiah ke kebun warga lain cukup jauh. Bila ia berteriak tak akan ada yang mendengar. Ia sendirian mengusir babi yang masuk kebunnya dengan menarik tali nilon yang digantungi kaleng-kaleng bekas. Babi pun lari terbirit-birit tiap mendengar kegaduhan ini.

Saat matahari mulai terbit di timur, ia harus bangun lebih cepat dari burung-burung. Segerombolan burung pipit berkepala putih, sampai ratusan ekor jumlahnya, senang hinggap di batang padi. Ketika ia menarik tali pengusir, mereka hanya mengepak jauh sesaat dan setelah itu kembali lagi.

Di sela-sela kesibukan di ladang, ia juga pergi ke kebun untuk menyadap karet. Dari getah karet, kadang-kadang ia memperoleh penghasilan sebesar Rp. 50 ribu. Tak setiap hari ia bisa mengumpulkan jumlah ini.

“Saya hanya memakai Rp. 10 ribu atau Rp. 20 ribu untuk makan. Sisanya saya simpan jika suatu saat ada keperluan mendadak” katanya. Irma kini sudah berkeluarga dan jadi tanggungan suaminya. Beban Nur Asiah agak berkurang. Ia kini tinggal bersama Lilis, dua anaknya, dan Rahmat, putra bungsunya. Rahmat akan tamat sekolah menengah atas tahun ini. Ia ingin bisa kuliah.

“Saya kadang-kadang harus menangis jika melihat semangatnya untuk kuliah. Sementara uang tidak punya. Dia satu-satunya yang menjadi tumpuan hidup saya di hari tua sebagai sosok pengganti ayahnya,” katanya, lagi.

Jika melihat Rahmat, ia teringat suaminya. Sering terlintas di benak Nur Asiah, seandainya sang suami masih ada mungkin hidupnya tak akan seberat ini. Pekerjaan pasti lebih ringan, karena ditanggung bersama.

Hidup pun terus berjalan. Tapi ada yang terus tersimpan dalam hati.

“Saya akan tetap menjalani kesendirian ini sampai akhir hayat. Sampai saya menemukan suatu kepastian tentang suami saya,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan