Jangan Terulang Lagi

Cut Nurfadillah adalah guru biologi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Darul Immarah. Suaminya bernama Tengku Muslim dan dikaruniai empat anak. Dua laki-laki dan dua perempuan.

Anak sulung mereka, Nur Khodillah, 24 tahun, kini kuliah di Fakultas Teknik, Universitas Al Muslim. Anak keduanya, Cut Musfarina Dinitra, 21 tahun, sedang menjalankan program diploma di Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK). Cut Musdila Melyta, anak ketiga, 17 tahun, masih belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Darul Immarah. Si bungsu, Teuku Mirza Fahmi, 15 tahun, pandai menghafal Al-Quran. Ia bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al Bina, sekolah binaan pemerintah Mesir di Jakarta.

Suaminya, Tengku Muslim hilang sampai hari ini. Kebahagiaan terasa tak lengkap tanpa kehadiran suaminya. Ia mengenang suaminya sebagai sosok ayah yang sangat dekat dengan anak-anak mereka. Sebelum berangkat kerja, Tengku Muslim selalu menyuapi makan anaknya. Ia juga tak mau melibatkan istrinya dalam pekerjaannya, sehingga Cut Nur tidak tahu persis apa saja kegiatan suami di luar rumah. Cut Nur hanya tahu bahwa suaminya memiliki banyak teman, termasuk polisi dan tentara. Sehari-hari Tengku Muslim bekerja di suatu pabrik semen di Lhoknga. Ia sedang berencana pensiun dini. Cita-citanya ingin jadi kontraktor.

Pada malam hari di tanggal 28 Maret 2001, sekelompok orang dengan menggunakan dua mobil datang ke rumah mereka. Ini menjadi hari terakhir Cut Nur bersama sang suami.

“Semua memakai tutup kepala dan baju preman (bukan seragam) serta membawa senjata laras panjang. Kami baru saja masuk ke dalam rumah setelah beristirahat di teras,” kenang Cut Nur.

Tengku Muslim lalu menggendong anak mereka yang tertidur di depan telivisi untuk dipindahkan ke kamar. Ketika ia bersiap-siap mengambil air wudhu, tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk orang. Cut Nur membuka pintu dan melihat di luar sudah ramai orang. Mereka memakai tutup wajah, sehingga tak bisa dikenali.

Ia bertanya pada mereka, “Ada apa, pak?.”

Salah seorang menjawab, “Saya perlu sama bapak.”

Cut Nur kemudian memanggil suaminya, Tengku Muslim mendatangi tamu-tamunya setelah selesai salat. Cut Nur tak ikut keluar rumah. Dalam hatinya terbesit perasaan aneh waktu ia mengintip orang-orang tersebut dari dalam rumah. Mereka bertamu dengan penutup wajah dan membawa senjata laras panjang. “Ada apa ini,” pikirnya.

“Di sini saja kita ngomong. Saya lagi demam. Kurang sehat,”kata suaminya. Ia melihat suaminya berbicara sebentar dengan orang-orang tersebut dan mereka berupaya membawa Tengku Muslim pergi.

Anak-anak terbangun karena mendengar kegaduhan di luar dan sangat kanget melihat ayah mereka hendak dibawa entah ke mana. Kedua anaknya berusaha melindungi sang ayah agar tak dibawa pergi. Namun, Cut Nur mencegah anak-anaknya berkelahi dengan orang-orang bertopeng itu. Ia tidak ingin mereka ikut dibawa pergi.

“Anakku yang paling besar saat itu masih SMA. Sementara anakku yang kedua, saat itu masih SMP. Mereka sudah sangat histeris dan menangis ketika ayahnya dibawa pergi oleh sekelompok orang. Aku pun sudah didorong oleh mereka,” katanya.

Ia terus menahan anak-anaknya, “Jangan keluar nak, jangan keluar. Biarkan ayah pergi.”

Ketika mobil yang membawa suaminya bergerak, anak sulungnya segera menghidupkan sepeda motor. Ia mengejar mobil itu.

Cut Nur tidak mampu mencegah. Ia menangis memikirkan nasib suaminya. Tidak lama, si sulung kembali kerumah, ia kehilangan jejak mobil tersebut di Simpang Ajun.

Sesudah peristiwa itu, Cut Nun cuti tidak mengajar selama tiga bulan. Ia tidak sanggup berkonsentrasi di kelas. Selama tujuh hari tujuh malam, ia menyelenggarakan pengajian untuk suaminya. Setiap doa selesai dilafalkan, ia selalu jatuh pingsan tanpa sebab.

Anak sulungnya juga mengalami trauma. Semula Cut Nur tidak menyadari, tenyata putranya yang pamitan ke sekolah tidak pernah datang untuk belajar.

“Dia hanya bilang kalau dia selama ini mencari ayahnya. Aku menangis ketika anakku mengatakan itu. Anakku harus menderita seperti ini karena ayahnya hilang,” kisahnya.

Nur Khodillah tidak ingin tinggal di desa mereka lagi, Pasee Beutong. Cut Nur lantas memindahkan putranya ke Aceh Timur. Ia punya keluarganya di sana. Namun, anak sulungnya ini hanya sanggup bertahan enam bulan di tempat barunya.

“Di depan sekolahnya ada sebuah pos Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang selalu membuat dia ketakutan dan tidak mampu untuk melihatnya,” tuturnya.

Ia memindahkan lagi si sulung ke kota lain. Kali ini ke Lhokseumawe. Lepas dari tekanan batin, anaknya harus menghadapi diskriminasi karena sang ayah dianggap anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Nur Khodillah ingin jadi polisi. Adik Cut Nur yang kebetulan polisi berusaha membantunya. Berbagai tes telah dijalani putranya, sampai akhirnya gagal di tahap akhir. Sepucuk surat kaleng diterima seorang perwira polisi itu yang isinya “Jangan terima anak GAM!!!.”

“Ketika pengumuman kelulusan, nama anakku menghilang dari daftar naman yang diumumkan, padahal malam sebelumnya nama anakku masih ada di sana,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan