Ingatan Tragedi Simpang KKA

Matanya mulai kabur melihat orang-orang berlarian melintasinya. Sesosok pria berlari terbirit-birit ingin melintasinya. Traaatttt. Timas panas menembus dada pria itu. Pria itu terjatuh tepat di depan Murtala. Jarak pria itu hanya sekitar tiga meter dari tempat Murtala.

“Allah,” kata pria itu ditirukan oleh Murtala. 

Saat itu kondisi Murtala antara sadar dan tidak. Saat pria itu terjatuh, darah di bekas tembakan di bagian dadanya keluar terciprat ke muka Murtala. Darah itu juga masuk ke dalamnya mulutnya.

Darah yang masuk ke mulutnya dia kulum tak dikeluarkan. Murtala terus menahan darah yang ada di dalam mulutnya. Dia melihat para tentara itu masih menendang mayat pria yang terkena tembakan lalu dipindahkan. Murtala bergegas menutup matanya.

Dalam hatinya dia bertasbih kepada Allah agar melindunginya dari ancaman maut. Tembakan senjata masih didengarnya. Suaranya sangat dekat dengan Murtala. Dia tidak mengetahui apa yang ditembak tentara itu. Murtala menerka-nerka. Bisa jadi yang ditembak adalah mayat pria yang tersungkur di depannya.

“Allah,” suara itu dia dengar samar-samar. Tapi tak tahu arahnya darimana.

Waktu masih menunjukkan pukul 07.00 WIB. Murtala baru saja kembali dari Pabrik Amonia Asean Aceh Fertilizer (AFF PT) tempatnya bekerja. Murtala hendak meminta izin ke atasannya untuk tidak masuk kerja. Ia akan mengadakan peuseujuk, ritual adat Aceh setelah 50 hari kelahiran anaknya.

Dari kantornya, Murtala jalan kaki ke rumah. Ia bergegas pergi mencari tetua gampong untuk mem-peuseujuk anaknya.  Pukul 10.00 WIB usai acara, ia pergi ke rumah teman kerjanya, Ali Basyah (saat ini sudah almarhum), yang saat itu sedang menggelar kenduri. Setelah berbincang sejenak dengan pemilik rumah,  ia pamit undur diri. Tujuan Murtala berikutnya yakni pasar. 

Murtala berlalu dengan berjalan kaki ke pasar. Saat itu dia belum memiliki sepeda motor. Sepanjang jalan ia melihat banyak warga berkerumun dan pergi ke satu arah. Hal itu membuat dia penasaran. Apa yang terjadi sehingga menimbulkan keramaian seperti ini? Murtala masih belum menginjakkan kakinya di rumah. Niat mencari bahan masakan dia tunda dulu. Rasa penasaran menuntun dirinya menuju sumber keramaian.  

Di pemukiman Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara massa sudah ramai berkumpul. Lambat laun dia baru mengetahui bahwa akan ada aksi di simpang KKA. Kabarnya, aksi itu dipicu adanya tentara melakukan sweeping masuk ke kampung beberapa hari terakhir.

Kejadian itu bermula pada 1 Mei 1999. Saat itu  sedang  dilaksanakan  Peringatan  1 Muharam di Dusun Uleetutu, Desa Lancang Barat, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara. Peringatan 1 Muharam ini diakhiri dengan Dakwah Islamiyah yang dilaksanakan pada jam 8-12 malam. Berdasarkan informasi, ternyata pada saat ceramah  sedang  dilaksanakan,  Adityawarman yang  merupakan  salah  seorang anggota  Detasemen  Arhanud  Rudal  001  Pulo  Rungkon  (Den  Arhanud  Rudal  001)  diduga hilang karena diculik. 

Esoknya  pukul  08.00  WIB  terdapat  3  (tiga) truk  reo  berisi  anggota  Den  Arhanud Rudal  001  yang  menyisir  kampung  Lancang  Barat  dan  Cot  Murong.  Pada  saat melakukan penyisiran  di  Desa  Lancang  Barat,  anggota  Den  Arhanud  Rudal  001  melakukan  interogasi disertai  kekerasan  terhadap  warga  desa.  Interogasi  tersebut dilakukan  untuk  mencari  anggotanya  yang  hilang, namun kemudian  dijawab  “tidak  tahu”  oleh warga.  

Setelah penyisiran tidak membuahkan hasil, anggota Den Arhanud Rudal 001 ini pulang ke markas.  Kemudian  pada  hari  yang  sama  sekitar  pukul 10.00  WIB,  mereka  datang  lagi  ke Desa Lancang Barat. Aparat tersebut tiba dengan seragam dan persenjataan lengkap serta menyisir kembali wilayah tersebut. Pada penyisiran kali ini ada tiga  warga  yang  ditangkap.  Penangkapan  warga  ini dilakukan  secara  acak  tanpa  dasar penangkapan  yang  jelas.  Kemudian  terjadi  negosiasi antara  warga  dengan  Danramil  yang datang  ke  lokasi  dengan  didampingi  oleh  tiga  orang  anggotanya  yang  bersenjata.

Berselang beberapa jam, tersiar kabar para tentara kembali masuk ke desa untuk melakukan sweeping. Negosiasi yang sebelumnya disepakati, ternyata dilanggar. Warga melihat aparat masuk ke kampung pukul 8 malam. Mereka pun kembali resah.

Mendengar informasi ada Pa’i (sebutan warga untuk tentara) yang masuk desa, maka warga Lancang Barat berjaga-jaga, demikian pula warga dari desa sekitarnya, antara  lain  Desa  Gelumpang  Sulu  Timur,  Desa  Ulee  Reuleng,  Desa  Bungkah,  Desa Kambam,  dan  Desa  Ulee  Madeon. Namun, hingga fajar menyingsing, tak ada kejadian apa-apa malam itu.

Pada 3 Mei 1999, sekitar pukul 7.30 WIB pagi, saat warga masih berkumpul di desa Lancang Barat, TNI kembali lagi ke Lancang Barat dengan 3 (tiga) truk reo yang berisi pasukan Den Arhanud Rudal 001 (1 truk) dan pasukan kesatuan Yonif 113 Bireuen (2 truk), dengan maksud untuk melakukan penyisiran untuk mencari anggota mereka yang hilang. Namun kedatangan ini tidak didampingi Muspika. Hal ini menyebabkan warga marah karena TNI dianggap melanggar kesepakatan kemarin. Warga menghadang truk reo dengan pos ronda dari papan kayu yang diangkat ke tengah jalan dan drum.

Pemblokiran jalan kian semarak. Warga meletakkan penghalang di tengah jalan sehingga angkutan umum yang mengarah ke Banda Aceh tak bisa lewat. Begitu pun sebaliknya. 

Murtala baru ikut keramaian itu pada tanggal 3 Mei. Massa semakin ramai menumpuk. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu hingga pria dewasa hadir di sana. Masing-masing dari mereka ada yang memegang parang, cangkul, balok segala macam yang bisa menjadi alat pertahanan diri. Murtala masuk dalam keramaian tersebut. Dia melihat Camat Dewantara, Marzuki ada di tengah-tengah kerumunan massa.

Saat melihat ramainya massa di depan Kantor Camat Dewantara, Murtala semakin penasaran. Sebab, di tempatnya tidak diterapkan lagi Daerah Operasi Militer (DOM). Hal itu menjadi tanya di benak Murtala. Dia tidak berpikir bahwa itu akan menjadi petaka baginya.

Saat melihat kerumunan massa yang sudah memenuhi pagar dan bahu jalan di depan Kantor Koramil Dewantara, Murtala memutuskan tidak lagi belanja untuk keperluan peuseujuk anaknya.  Sedangkan di rumah istri dan anak pertamanya telah menunggu.

Murtala pergi dengan langkah tergesa. Sepanjang jalan dari pusat Kecamatan Dewantara, ia melihat blokade jalan dimana-mana. Kayu panjang, kursi hingga tong sampah membentang di tengah jalan. Kendaraan roda empat tidak bisa lewat. Hanya bisa sepeda motor dan pejalan kaki saja.

Detuk jantung Murtala berdebar kencang. Tubuhnya lemas melihat kondisi saat itu. Pikirannya gusar mengingat umur anak pertamanya yang baru 50 hari itu.

Ibu Murtala juga saat itu tidak ada di rumah. Hal tersebut semakin membuatnya khawatir. Gemuruh suara massa yang terus-terusan bersorak tak jelas dia dengar. Padahal suara itu sangat kuat menggema. Tiba di rumah, hatinya sedikit lega melihat anak dan istrinya baik-baik saja.

“Kamu dirumah aja ya. Jangan kemana-kemana. Saya mau keluar sebentar, lihat apa yang terjadi,” kata Murtala kepada istrinya.

Saat keluar rumah ia mendengar obrolan massa bahwa Pesantren Cot Murong sudah dibakar. Hal itu membuat emosinya mendidih. Sebab di Aceh warganya penganut agama Islam yang fanatik. Mendengar hal itu Murtala jadi semakin penasaran.

Dari rumah ia kembali ke kerumunan. Saat tiba di Simpang Tiga KKA atau Simpang Kraft, ia melihat tiga mobil reo yang masing-masing satu truk milik Arhanud Rudal 001 dan dua truk milik Yonif 113 Bireuen lengkap dengan senjata masing-masing personel.

Simpang Kraft adalah nama sebuah pertigaan yang terletak di sebelah kiri jalan lintas Medan-Banda Aceh. Dari Lhokseumawe jaraknya sekitar 19 kilometer. Simpang itu adalah jalan masuk utama ke pabrik kertas PT Kertas Kraft Aceh, yang jaraknya 10,5 kilometer masuk ke dalam. Di lintasan jalan menuju pabrik KKA, ada markas Arhanud Rudal yang cuma berjarak dua setengah kilometer dari persimpangan. Markas ini menyimpan peluru kendali buat perlindungan daerah ini.

Namun saat itu ia melihat baik tentara maupun masyarakat saling berbaur. Hingga ada tentara yang menyalakan api rokoknya di kerumunan massa. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB siang. Matahari semakin terik. Melihat ada Murtala di dalam kerumunan, salah seorang koordinator aksi meminta tolong kepadanya agar dicarikan pengeras suara untuk Marzuki agar menenangkan massa.

“Bisa pinjam bentar TOA? Karena pak Camat mau bicara,” pinta Koordinator aksi kepada Murtala.

Murtala tinggal di Desa Paloh Lada dekat Simpang KKA. Dia mencoba mencari pengeras suara di Meunasah. Namun tak kunjung dia temukan. Beruntung ada salah seorang peserta aksi yang memiliki TOA dan lekas memberikan kepada Marzuki untuk menenangkan massa.

Meski sudah menggunakan pengeras suara, apa yang dikatakan Marzuki tak jelas terdengar. Massa cukup ramai dan saling berteriak. 

“Allahuakbar,, allahuakbar. Merdeka,,, merdeka. Hidup referendum,” teriak warga saling sahut menyahut dalam kerumunan.

Sudah jam 12.00 WIB siang. Matahari sudah berdiri tegak, tepat diatas ubun-ubun. Massa semakin gerah. Badan mereka sudah basah dipenuhi keringat. Massa semakin gerah, sebab tuntutan mereka belum jelas.

Adzan Zuhur sudah berkumandang. Murtala bergegas turun sejenak dari atas mobil reo tempat Camat Dewantara berdiri. Ia melaksanakan shalat di salah satu rumah milik warga dekat lokasi itu. Nama pemilik rumah itu Yasidin. Selesai melaksanakan sholat, Murtala kembali keluar untuk mendengar apa yang dibicarakan oleh camat. Namun tak kunjung terdengar juga. Suara Marzuki terhalang dengan suara riuh massa disana.  

Tepat pada pukul 12.30 WIB, Ia melihat ada seorang tentara yang menggunakan radio sebagai alat komunikasi. Tentara itu seperti dikomandoi. Tentara itu bergegas lari ke semak-semak bagian barat di Simpang KKA. Di situ ada banyak pohon durian, pohon pisang yang agak menurun ke bawah. Sembari berlari, tampak tentara itu seperti baru saja diberi perintah. Murtala bingung sebab apa gerangan. 

Disana ia melihat juga ada mobil dari tentara turun dekat warung rujak disekitar lokasi aksi. Kiri kanan samping jalan, dia melihat para tentara itu ada yang merangkak. Sememtara itu Yonif 113 yang berada di baris depan tempat aksi juga sudah bersiap.

“Traat….trat,” para tentara melepaskan dua kali tembakan keudara. Hal itu dilakukan untuk membubarkan massa.

Seketika mendengar suara tembakan itu, massa langsung berhamburan. Ada yang tiarap dan ada yang lari tunggang-langgang.

“Praatt….traaat…traat,” kali ini para tentara itu sudah melepaskan tembakan membabi buta ke arah masyarakat. Massa yang sebelumnya padat sontak berlari bak semut tak tentu arah. Massa semakin panik, terngiang timah panas bersarang ke tubuh masing-masing peserta. Langkah seribu jadi solusi, berlari ke sana kemari. Bak binatang berlari terbirit-birit saat bertemu predator.

Murtala mencoba lari. Namun tidak bisa. Sebab ruang geraknya terhalang dengan mobil reo milik tentara tadi. Lalu dijatuhkannya badannya ke aspal. Perlahan ia merangkak sambil tiarap menuju ke posisi mobil paling depan.

Hendak keluar dari celah mobil tadi, tangan Murtala ditarik oleh salah seorang tentara yang dia tidak tahu dari satuan mana. 

“Tepappp,” popor senjata mendarat tepat di dadanya. Kemudian tentara itu menendang Murtala beberapa kali. Dia dipaksa berdiri oleh tentara itu. Badannya diseret yang kemudian dihentakkan ke badan mobil reo itu.

Badannya sudah lunglai jatuh ke aspal. Senapan milik tentara itu sudah ditodongkan ke Murtala. Dia mencoba merangkak lagi untuk menyelamatkan diri. Berapa kali ia mencoba, kaki tentara itu sudah duluan menginjak badan Murtala. Belakang kepalanya juga dipukul dengan popor senjata. Pakaian yang dikenakannya sudah koyak semua. Badannya sudah mulai lebam-lebam. Namun tak berhenti disitu saja. Ayunan senjata dan hantaman sepatu bot milik tentara menahan gerak langkahnya. 

Sembari menyiksa Murtala, tembakan senjata terus dilepaskan para tentara itu. Tembakan itu membabi-buta. Tak jelas arahnya. Ke langit, pepohonan hingga ke arah massa yang sedang berlari. 

Di antara massa yang berlari itu, Murtala sudah tersungkur di jalan. Badannya sudah terkapar lemas. Hantaman senjata ditambah dengan injakan tadi membuat tubuhnya sulit bergerak. Rasa nyeri tak bisa digambarkan lagi. Dia dibiarkan terkulai begitu saja. 

Lalu para tentara itu bergerak ke arah Murtala. Diarahkannya moncong senjata laras panjang tepat diatas dada Murtala. Murtala tetap memejamkan matanya. Ia merasakan moncong senjata itu yang sewaktu-waktu akan dilepaskan kepadanya.

“Tembak sekali lagi ini. Biar mampus,” kata tentara yang mengarahkan senjata ke dada Murtala.

Beruntung ada salah seorang teman tentara yang menahan. Tentara itu mengatakan bahwa Murtala sudah mati. Karena bercak darah tercecer di wajah Murtala. Namun tentara yang menodongkan senjata tadi tidak percaya. Dihantamnya lagi popor senjata ke dada Murtala. Darah yang ia kulum tadi muncrat keluar.

“Coba lihat sudah mati dia,” kata tentara yang mencoba menahan temannya tadi.

“Mampus kau anjing,” ucapnya tentara yang memegang senjata itu kepada Murtala.

Ia tak bertenaga lagi. Kepalanya berkunang-kunang. Murtala jatuh pingsan. Tak lama setelah kegaduhan itu usai, bantuanpun datang. Murtala yang sekarat segera digotong ke rumah sakit terdekat. 

Bunyi sirene ambulan saling bersahutan. Suasana sangat mencekam saat itu. Sirene terus mendesing hingga malam tiba. Murtala baru sadar setelah tiga hari kejadian. Bekas memar masih belum hilang. Namun mimpi buruk itu terus ia terngiang di kepalanya. Ia mengalami trauma berat. 

20 tahun pasca kejadian, Murtala kini beraktivitas seperti biasanya. Ia aktif perkumpulan korban konflik di daerah Aceh Utara dan Lhokseumawe. Nama forum itu K2HAU. Di forum sesama korban konflik saling menguatkan satu sama lain. Penguatan individu atas trauma masa lalu mereka tuang disini. 

Sebab kata Murtala, masih ada beberapa korban yang tidak bisa melukakan tragedi berdarah di simpang KKA itu.  Ia menceritakan,  salah seorang ibu korban saat kejadian berdarah itu masih trauma hingga sekarang. Saat melakukan proses terapi dengan anggota K2HAU, ibu tersebut tak keluar rumah selama satu minggu. Sebab salah satu anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar saat itu menjadi korban. Seragam sekolah masih ia simpan.

Meski sudah 20 tahun pasca kejadian, Murtala mengaku para korban sudah memaafkan para pelaku. Meski saat ini bantuan dan penanganan terhadap korban oleh pemerintah belum jelas hingga sekarang. Hak korban juga belum terpenuhi.  Meski sudah memaafkan, para korban itu mengaku tak pernah lupa akan kejadian saat itu. Apa yang mereka alami biar menjadi sejarah bagi anak-anak jaman sekarang.

Tinggalkan Balasan