Hilang Di Gunung Geurutee

Zainuddin yang dikenal dengan nama Bang Doi, usianya kini menjelang 40 tahun. Ia menikah dengan Arwiyati dan dikaruniai tiga anak; dua perempuan dan satu laki-laki. Rumah yang beratap rumbia menjadi tempat tinggalnya yang terletak di sungai Kreung Sabee, Desa Rantau Panyang. Riak air sungai yang mengalir pelan ke hulu terdengar jelas di dalam rumahnya yang berjarak dua atau tiga meter dari bibir sungai. Air sungai yang kuning keruh, menjadi sumber kehidupan sehari-hari bagi warga sekitar.

“Kalau mau mandi tinggal nyebur ke dalam sungai. Istri saya juga mencuci pakaian di aliran air sungai,” kata Bang Doi.

Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, Bang Doi menjadi petani dengan menanam padi di sawah. Saat panen, ekonomi keluarganya lumayan baik. Tapi di musin paceklik, ia kadang harus beralih profesi jadi tukang potong kayu.

“Syukur Alhamdulillah, pada tahun 2008 ini warga yang tinggal di daerah ini telah dilimpahkan rezeki oleh Allah. Gunung emas, biasanya hanya saya dengar dalam dongeng, namun sekarang kenyataan dari namanya sudah nyata adanya,” ungkapnya.

Gunung emas itu adalah gunung Ujeun yang terletak di desa Panggong, kecamatan Krueng Sabee yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari kampung Bang Doi. Bongkahan batu di gunung Ujeun itu mengandung bijih besi.

Bang Doi dan temannya memulai untuk menambang emas secara sederhana. Mereka menggunakan linggis, sekop dan karung. Ada beberapa aturan yang berlaku terkait dengan penambangan emas ini, yaitu di hari Jumat tidak boleh melakukan penambangan dan tidak boleh bermalam di lokasi penambangan. Aturan ini dibuat untuk menjaga keselamatan dan ketentraman para penambang.

Perekonomian kampung mulai hidup berkat penambangan tersebut. Warung-warung makan bermunculan, bengkel juga mulai dibuka serta adanya tempat penggilingan batu. Bukan hanya warga dari Krueng Sabee yang menambang emas di sana, masyarakat yang berasal dari Meulaboh, Nagan Raya bahkan dari luar Aceh juga mengadu nasib di gunung emas tersebut.

Terkadang ia bisa mendapatkan Rp2.000.000,- yang membuatnya begitu bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Hidup keluarganya kian makmur. Tetapi harta tidak bisa menghilangkan rasa sedihnya setiap mengingat Kasmi, adik kandungnya.

“Meski sudah bertahun-tahun dia menghilang. Namun, wajahnya masih terbayang-bayang dalam ingatan sampai hari ini,” katanya.

Mereka terdiri dari delapan bersaudara, Kasmi adalah anak keenam. Bang Doi anak sulung yang mempunyai tiga adik laki-laki dan empat adik perempuan.

“Di antara adik saya, Kasmi yang paling dekat dan manja pada saya. Usianya sekitar 20 tahun waku hilang,” ia mulai berkisah.

Konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia yang mendera Aceh telah mengubah total bangunan keluarga intinya. Semua adik laki-laknya, Tarmizi, Yasin, dan Razali meninggal dunia akibat kontak senjata dengan tentara. Kasmi hilang sampai sekarang. Tak berapa lama, ibu mereka meninggal dunia karena sakit. Setelah ibu meninggal, sang ayah menikah lagi.

Yasin, Tarmizi dan Razali diincar tentara sejak keterlibatan mereka dalam GAM. Tiap kali tentara melakukan operasi, rumah orangtua Bang Doi sering jadi sasaran. Namun, tentara tak menemukan ketiganya yang sudah berlari ke hutan. Ia sendiri jarang bertemu mereka. Bahkan, tentara membubuhkan tanda silang dari cat merah di pintu rumah orangtuanya, sebagai tanda rumah anggota GAM yang dicari.

“Saya pun merasa khawatir, takutnya jadi sasaran kemarahan tentara diarahkan ke Kasmi. Lalu Kasmi pada saat itu dibawa pulang ke rumah saya,” tuturnya.

Pada tahun 2000, Kasmi tinggal bersama abang sulungnya. Kasmi jadi lebih leluasa dalam bergerak dan tidak khawatir menjadi sasaran oleh tentara. Karena kampung Bang Doi jarang didatangi tentara.

Lama kelamaan, konflik semakin meluas dan berbahaya. Tentara makin gencar melakukan operasi pengejaran terhadap GAM. Anggota GAM tidak mau kalah, mereka mulai berani berhadap-hadapan dengan tentara sehingga kontak senjara sering terjadi.

“Untuk memblokade gerakan GAM, tentara mendirikan pos mereka di desa kami. Tapi saya tidak tau dari mana kesatuan mereka. Yang jelas mereka sudah membentuk markasnya,” kata Bang Doi.

Kasmi mulai menjadi penakut dan kehilangan semangat hidup. Kejadian ini bermula saat tentara meminta Kasmi datang ke pos mereka. Saat di pos, Kasmi diinterogasi dengan nada mengancam. Ia ditanyai soal Yasin, abangnya yang bergabung dengan GAM. Tentara memintanya memberitahu keberadaan Yasin. Karena ketakutan, seminggu kemudian Kasmi pamit meninggalkan Rantau Ranyang.

“Bang, saya harus pergi dari sini. Saya harus menghindar dari tentara. Saya takut jika bertemu mereka lagi,” ujar Kasmi pada Bang Doi.

Pada 2 Agustus 2002, Kasmi berangkat ke Banda Aceh. Ia menumpang di minibus yang dikenal dengan nama L300 dengan rute Banda Aceh-Meulaboh. Ketika meninggalkan rumah, ia mengatakan akan mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga begitu sampai di Banda Aceh. Tujuannya, agar ia punya tempat tinggal.

“Waktu dia berangkat, saya menangis melepaskan dia. Saya memberikannya dua potong pakaian dan uang seadanya untuk jajan di jalan. Tidak ada tanda-tanda atau firasat kalau dia akan pergi selamanya,” tutur Arwiyati.

Setelah itu Kasmi tak berkabar lagi. Bang Doi begitu risau, karena pemerintah Indonesia menetapkan status Aceh sebagai Daerah Militer (DM). Operasi militer besar-besaran dilancarkan di kampung-kampung. Pertahanan GAM di kampung dikepung tentara. Warga makin panik menghadapi perang, takut menjadi korban.

“Ada saja saya dengar mayat manusia ditemukan. Entah karena dibunuh. Entah karena ditembak. Bahkan karena diculik lalu dibunuh sampai mati. Pelakunya selalu bersembunyi di balik identitasnya yag samar-samar. Setiap kejadian yang saya dengar, pelakunya selalu orang yang tidak dikenal atau OTK. Saya takut, adik saya sudah menjadi korban,” kata Bang Doi.

Delapa bulan setelah Kasmi pergi, Bang Doi mencoba menelusuri jejaknya. Sebelum berangkat, ia mendatangi kantor Komando Rayon Militer (Koramil) Kreung Sabe, kabupaten Aceh Jaya, untuk mengurus surat jalan. Surat ini sangat berguna kalau terjadi razia atau penyisiran oleh tentara di jalan.

Ketika mengurus surat jalan ini, Bang Doi menyebutnya untuk keperluan mencari kerja di Banda Aceh. Setelah beberapa hari bolak-balik ke kantor Koramil, ia memperoleh surat tersebut. Ia tidak langsung ke Banda Aceh, tapi mampir dulu di Lhong.

“Di sana saya ada kawan. Saya rencana mau mencari kerja dulu. Karena uang saya tinggal sedikit. Kalau saya paksakan juga pergi ke Banda Aceh, saya bisa lapar di jalan,” jelasnya.

Di Lhong, ia bekerja sebagai kuli bangunan untuk membuat rumah penduduk. Setelah memperleh upah, ia berpamitan pada kawannya untuk pergi ke Banda Aceh selama beberapa hari. Jarak dari Lhong ke Banda Aceh sekitar dua jam.

Setiba di Banda Aceh, ia malah bingung. Ia tak tau akan ke mana. Akhirnya ia nekat menyusuri kota dengan jalan kaki. Ia melihat betapa berbeda jalan di kampungnya dibandingkan dengan jalan kota yang beraspal dan dua jalur. Ia mencari adiknya ke setiap tempat yang dapat ia jangkau dan gagal menemukannya.

Lama setelah itu, akhirnya ia bertemu Jamaliah, temannya Kasmi. Jamaliah mengatakan bahwa ia dan Kasmi berada dalam mobil yang sama sewaktu meninggalkan kampung. Setiba di gunung Geurutee mobil mereka dihentikan tentara yang sedang melakukan operasi. Tentara itu dari batalion Brawijaya.

Saat itu, seluruh penumpang disuruh turun dan diperiksa. Setelah diperiksa satu per satu, mereka disuruh masuk kembali ke mobil, kecuali Kasmi. Pengemudi mobil kemudian diminta melanjutkan perjalanan.

Ketika mendengar cerita Jamaliah, Bang Doi syok berat. “Saya menangis, tangan gemetar. Tapi saya tidak berani mencarinya sendiri ke gunung Geurutee. Karena tidak mungkin saya cari dia ke sarang harimau. Saya hanya pasrah saja. Dipikiran kalau masih hidup, dia pasti kembali ke rumah,” ujarnya.

Namun, Kasmi tak kembali hingga kini.

Pada 2008, nama Kasmi masuk dalam daftar penerima dana diyat dari Badan Reintegrasi Aceh. Ketika membaca nama adiknya tercantm di daftar itu, dada Bang Doi begitu sesak. Mereka yang mendapat dana diyat berarti sudah meninggal dunia. Diyat tak lain dari uang ganti rugi keluarga korban yang meninggal di masa konflik.

“Tapi anehnya uang diyat itu diberikan sepihak oleh pemerintah tanpa ada musyawarah dengan keluarga korban. Sementara pernyataan tertulis dari pemerintah bahwa adik saya sudah meninggal tidak ada. Adik saya mati tapi tidak ada kuburan,” katanya dengan kecewa dan sedih.

Tinggalkan Balasan