Endapan Trauma usai Aparat Membakar Tiro

Penulis adalah penerima fellowship dari pelatihan HAM, media dan keadilan transisi yang diselenggarakan oleh AJI Banda Aceh, KontraS Aceh, LBH Banda Aceh dan AJAR.
[Diky Zulkarnen/Sinar Pidie]

Pada Selasa, 24 Juli 2000 pagi, Aminah Ali, 65 tahun, bersama dua puluh perempuan meninggalkan Gampong Pulo Keunari. Mereka berjalan kaki, berbaris sejauh tiga kilometer menyeberangi Sungai Tiro melalui jembatan gantung dan melewati Lhok Panah. Tujuan mereka menuju Gampong Cot Murong, Kecamatan Sakti.

Mereka hendak berkunjung ke tujuh rumah warga yang meninggal dunia. Harusnya ada satu rumah duka yang tersisa, tapi mereka dihentikan oleh salak senjata yang terdengar dari arah Pulo Keunari, kampung mereka.

“Setelah mendengar suara letusan senjata, kami memilih berdiam diri beberapa waktu di rumah keenam,” kata Aminah Ali, Senin, 19 Januari 2021.

Setelah letusan senjata reda, Aminah Ali dan rombongan memutuskan untuk langsung pulang ke Pulo Keunari. Mereka tiba sekitar pukul 15.00 WIB dan mendapati sebagian besar rumah mereka sudah hangus terbakar. Kampung kosong dari penghuni laki-laki. Mereka melarikan diri ke pegunungan Cot Rheng, Cot Cukok, dan ke Gle Sala.

Selain puing, perempuan-perempuan itu menemukan tiga jasad laki-laki. “Dua jasad warga gampong kami. Teungku Makam dan M Yusuf,” kata Aminah.

Tengku Makam yang sudah berusia renta berada di dalam rumah saat pasukan Brimob membakar rumahnya. M Yusuf, saat itu berumur 21 tahun, jatuh tertembak. Korban lain, Teungku Rasyid Batee, seorang penjual garam keliling dari Batee yang waktu itu melintasi Tiro dengan mengayuh sepeda ontel, oleh Brimob, dilempar ke dalam kobaran api.

Aminah Ali, 65 tahun. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Keesokan harinya, kami menggali dua kuburan untuk memakamkan mereka,” kata Aminah.

Sedangkan jenazah Rasyid dipulangkan kepada keluarganya di Batee –  sekitar tiga puluh kilometer dari Tiro. Brimob BKO Tiro membakar 25 unit rumah, 27 unit kedai, dan satu unit kilang padi di Gampong Pulo Keunari, Selasa, 24 Juli 2000. Selain itu, Brimob juga membantai ternak-ternak warga. 

Bumi hangus itu diawali oleh tertembaknya dua Brimob BKO Tiro dari Resimen II Pelopor di Tugu Gampong Pulo Keunari pada hari yang sama. Kesatuan ini ditempatkan di kompleks Mapolsek Tiro/Truseb di Gampong Mancang.

Infografis sinarpidie.co.

Pulo Keunari berada di selatan Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie, atau dapat ditempuh sekitar 40 menit menggunakan kenderaan bermotor dari jalan Banda Aceh-Medan. Luas kampung ini sekitar 8.96 kilometer persegi dan dikelilingi oleh sawah-sawah penduduk. Umumnya penduduk bekerja sebagai petani.

“Jumlah penduduk di Pulo Keunari pada tahun 2001 diperkirakan lebih kurang 500 jiwa, terdiri dari 200 pria dan 300 perempuan,” kata Ilyas, Keuchik Gampong Pulo Keunari, Senin, 19 Januari 2021.

Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro/Truseb, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Dua puluh tahun setelah bumi hangus itu, penduduk bertambah sekitar 100 jiwa.

Setelah bumi hangus Pulo Keunari, keesokan harinya Brimob berbaris menuju Dusun Labo Adang, Gampong Peunadok. 27 unit rumah di Dusun Labo Adang ludes terbakar. Di hari yang sama, mereka juga membakar 25 unit rumah, satu kilang padi, dan satu kedai di Dusun Peulandok, Gampong Pulo Glumpang. Keduanya masih di Kecamatan Tiro.

***

KABAR bahwa Brimob telah memasuki Dusun Peulandok, Gampong Pulo Glumpang, Kecamatan Tiro/Truseb, sampai ke telinga Nurhayati, 56 tahun. Hari itu dia sedang berselonjor di balai bambu halaman rumahnya. Dia saat itu bersama dua anaknya, Sitihawa dan Aswadi, serta sepupunya, Raimah. Nurhayati segera menggiring kedua anaknya masuk ke rumah, sedangkan Raimah pulang ke rumahnya. Adapun lima perempuan lain juga masuk ke dalam rumah Nurhayati.

“Mereka memilih masuk ke rumah saya, karena rumah saya semi permanen. Bila terjadi penembakan, mereka berpikir bisa bersembunyi di balik tembok rumah,” kata Nurhayati, Selasa, 19 Januari 2021.

Tak lama kemudian, Brimob tiba di depan rumah Nurhayati. Personel pada satuan elite Polri ini melempari kaca rumah Nurhayati hingga pecah. “Buka pintu! Buka pintu!” ujar Nurhayati, menirukan ucapan salah seorang personel Brimob saat itu.

Nurhayati, 56 tahun. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Nurhayati lantas membuka pintu. Seorang personel Brimob masuk ke dalam rumah. Brimob itu memerintahkan perempuan-perempuan yang berada di dalam rumah, termasuk anak-anak, keluar.

“Saya tidak dibolehkan keluar. Saya tinggal sendiri di dalam rumah,” kisah Nurhayati.

Penasaran dengan apa yang terjadi di luar, Nurhayati bangkit dari tempat duduknya untuk melihat keluar. Namun, salah seorang personel Brimob mengayunkan popor senjata ke wajah Nurhayati. Nurhayati tidak menyerah. Dia kembali melongok keluar. Kembali si Brimob itu mengayunkan popor senjata. Lima kali pula popor senjata menghantam wajah Nurhayati.

“Empat gigi saya copot,” kata Nurhayati.

Nurhayati tetap tidak menyerah. Dengan wajah berlumuran darah dia menerobos kepungan Brimob agar bisa keluar dari rumah. Dia berlari menuju rumah tetangganya yang terpaut sekitar dua puluh meter dari tempat dia dikepung. Di rumah tetangganya itu, dia melihat kedua anaknya serta sejumlah perempuan lainnya telah dibariskan. Mereka dibariskan di bawah sebatang pohon kelapa. Lalu, Brimob menembak buah kelapa. Tujuannya: agar buah kelapa jatuh menimpa kepala perempuan-perempuan itu.

Bosan dengan permainan itu, Brimob kemudian membiarkan para perempuan tersebut pergi. Lalu mereka melanjutkan membakar rumah penduduk.

Hari itu juga, Nurhayati, kedua anaknya, dan sepupunya meninggalkan Pulo Glumpang dengan berjalan kaki. Mereka mencari perlindungan ke Gampong Usi Campli, Kecamatan Mutiara Timur, yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari kampung mereka. Maharaja, 67 tahun, suami Nurhayati, menyambut istri dan dua anaknya dengan pelukan.

Dua hari kemudian, Nurhayati dan keluarganya pulang ke Peulandok. Karena rumah mereka yang telah menjadi puing, untuk sementara waktu, mereka menumpang di rumah kerabat yang selamat dari bumi hangus.

Nurlaili, 43 tahun, warga Gampong Pulo Keunari, juga melakukan hal yang sama. Hari-hari setelah bumi hangus dia berlindung di rumah salah satu warga yang selamat dari amuk militer Indonesia. “Di sana, kami tidur berdesak-desakan dalam satu rumah,” katanya, Senin, 19 Januari 2021.

Nurlaili, 43 tahun. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Sementara, perempuan-perempuan dari Labo Adang, Gampong Peunandok, mengungsi ke Meunasah (Surau) Labo Adang selama tiga bulan.

“Saat itu kami menjalani hidup dengan saling berbagi makanan, pakaian, dan apapun yang bisa dibagi,” kata Warni Idris, 48 tahun, warga Dusun Labo Adang, Gampong Peunandok.

 ***

Setelah bumi hangus Tiro, hampir setiap pagi Brimob memasuki kampung-kampung di sana. Mereka juga datang ke pengungsian di Meunasah Labo Adang. Tujuan mereka menanyakan keberadaan anggota GAM. Aminah Ali mengatakan, pemuda yang sudah ber-KTP memilih meninggalkan Pulo Keunari dan sebagian besar gampong lainnya di kecamatan Tiro.

“Keluarga mengirim mereka untuk tinggal di rumah sanak saudara yang berada di Banda Aceh, Sigli, dan Lhokseumawe,” katanya.

Pada 2002, rumah-rumah penduduk yang dibakar dan dihancurkan oleh Brimob pada Resimen Pelopor dibangun kembali oleh pemerintah. Pemilik kedai diberi uang ganti rugi Rp 45 juta per unit.

Namun, bantuan itu melupakan satu hal. “Kami tidak memperoleh pendampingan untuk pemulihan trauma setelah peristiwa itu. Semua berlalu begitu saja seiring berlalunya waktu,” tutur Nurlaili.

Tiga bulan sejak bumi hangus Pulo Glumpang, Nurhayati mengatakan beberapa kali dia salah mengikuti arah kiblat saat ia mendirikan salat. “Tiga bulan lebih saya ketakutan. Pada bulan kempat, saya pergi berobat ke dokter di Kecamatan Sakti. Saat diperiksa, dokter bilang saya mengalami ketakutan dan trauma,” kata Nurhayati.

Aminah Ali berharap kejadian serupa tak terulang lagi. “Trauma kami tidak pernah hilang jika teringat kejadian itu. Namun, kami hanya bisa meminta dan berdoa kepada Allah agar peristiwa seperti ini tidak kembali terulang,” kata Aminah Ali.

Dia berharap tidak ada lagi kekerasan dan teror dalam hidup mereka. “Biarlah hidup kami di sini aman dan damai sehingga kami bisa bebas bekerja dan mencari rezeki di gunung dan sawah,” katanya.

***

Koordinator Yayasan Pulih Aceh, Dian Marina, 48 tahun, mengatakan setiap orang yang pernah ditangkap, diinterogasi, diancam, dibentak, dan menyaksikan peristiwa kekerasan yang luar biasa di masa konflik bersenjata antara GAM dan Pemerintah Indonesia, memiliki ketahanan atau resiliensi yang berbeda-beda antara satu dan yang lain. “Resiliensi ini sangat tergantung pada masing-masing orang yang pernah mengalami kekerasan di masa lalu dan skala peristiwa,” katanya pada Minggu, 24 Januari 2021.

Secara umum, korban yang pernah mengalami dan menyaksikan kekerasan di masa lalu bisa saja akan mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma. “Sampai sekarang, gambaran tentang peristiwa itu masih ada dan tak pernah hilang di dalam kepalanya. Di permukaan memang tidak terlihat, tapi jika ada pemicu, gambaran peristiwa tersebut akan muncul kembali. Misalnya, ada yang bertanya-tanya tentang peristiwa dulu, kemudian, misalnya, yang pukul dulu berbaju loreng, saat dia melihat baju loreng, ingatannya tentang peristiwa dulu bisa muncul kembali, dan dia histeris,” kata Dian, menjelaskan dampak pertama.

Bekas kilang padi yang dibakar Brimob pada Selasa, 24 Juli 2000. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen)

Selain itu, dampak yang dialami korban adalah kehilangan konsentrasi dan kepekaan. “Jika dia melihat orang dipukul, dia akan biasa-biasa saja. Sudah mati rasa,” ujarnya.

Dampak ketiga, menurut Dian, adalah rusaknya interaksi dan hubungan sosial. “Korban tidak suka ditanya-tanya, dan dia tidak suka berada di keramaian,” katanya.

Jika trauma yang dialami oleh para korban ini tidak dipulihkan, kata dia lagi, hal itu akan berdampak pada perubahan karakter sehingga kekerasan yang pernah dialami, dilihat, dan pernah dilakukan akan berpindah ke ruang domestik. “Di daerah bekas konflik, orangtua yang memukuli anak mereka agak mengerikan,” tuturnya.

Semestinya, para korban kekerasan di masa lalu, harus ditangani oleh psikolog atau psikiater. “Trauma mereka (korban) harus dibongkar. Harus ada upaya pemulihan,” ujarnya.

Infografis sinarpidie.co.

Namun Dian, yang telah bergelut di bidang psiko sosial selama 16 tahun, menunjukkan ada masalah besar yang dihadapi Aceh untuk pemulihan korban konflik. Menurut Dian, kendala utama sekarang adalah rasio korban konflik yang jumlahnya ribuan berbanding terbalik dengan jumlah tenaga yang sangat terbatas. Dia mengatakan, upaya lembaganya dalam menutupi ketimpangan tersebut salah satunya melalui pemulihan psiko sosial berbasis komunitas.

“Pemulihan psiko sosial mengandalkan resiliensi korban untuk bertahan dan dukungan keluarga, lingkungan, serta orang terdekat korban. Jadi resiliensi korban yang dikuatkan. Tapi pemulihan tersebut tidak dapat memulihkan secara total seperti sediakala,” tuturnya. []

Sumber : sinarpidie.co

Tinggalkan Balasan