Dimana Suamiku?

Hamparan padi menguning menyelimuti desa Puuk, yang berada di kabupaten Aceh Besar. Pohon-pohon rindang. Rumah-rumah panggung terlihat di kanan-kiri jalan. Tapi jalan masuk ke desa jauh dari memberi rasa nyaman. Batu-batu kerikil bertaburan di atasnya.

Di sini ia tinggal bersama dua anaknya, Farhan Zuhana dan Dara Dinanti. Si sulung berusia 8,5 tahun, sedang si bungsu enam tahun. Di rumah ini juga tinggal ayah dan ibunya. Sang ayah, Abdul Wahab, sudah berusia 80 tahun, terkena strok tiga bulan lalu, sehingga tak bisa beranjak dari tempat tidur.

Sehari-hari ia berkebun seledri, tumbuhan yang lebih dikenal dengan sebutan “daun sop”, untuk menghidupi keluarga dan membiayai sekolah anak anaknya. Dengan berkebun, ia juga bisa menghibur diri.

Farhan anak sulungnya, anak pintar. Ia selalu meraih rangking I, mulai kelas satu sampai kelas tiga di Sekolah Dasar (SD) Lamrot. Sementara Dara masih belajar dikelas satu.

Dara masuk SD di usia lima tahun lebih empat bulan, karena tak mau lagi belajar di taman kanak-kanak. Ia berusaha keras agar Dara bisa masuk SD ketika itu, termasuk menangis dihadapan kepala sekolah untuk memohon anaknya diterima. Pasalnya usia dara belum mencukupi untuk masuk SD. Akhirnya hari kepala sekolah luluh. Dara diterima sebagai murid di SD yang sama dengan Farhan. Dara ternyata murid cerdas. Ia meraih rangking II di kelasnya.

Namun, kebahagiaan mengingat prestasi anak-anaknya ini tiba-tiba hampa tiap ia mengenang suaminya.

Ayah anak-anak ini hilang pada 10 Juni 2003 Muhammad, namanya. Ia dan anak-anaknya biasa memanggil “ayahanda”.

Nama putrinya, Dara Dinanti, sedikit banyak dipengaruhi oleh hilangnya Muhammad. Ketika suaminya menghilang Dara baru berusia 80 hari. Karena itu, ia menamai putrinya Dara Dinanti.

“Entah sampai kapan dia harus menanti ayahnya,”katanya.

Suatu hari Dara bertanya, mengapa diberi nama Dara Dinanti. Pertanyaan ini sempat membuatnya kaget. Ia kemudian bertanya mengapa putrinya ingin tahu. Menurut Dara, ada teman di sekolah yang bertanya.

“Ketika aku menjelaskan mengapa namanya Dara Dinanti, dia pun spontan tidak ingin dipanggil dengan nama Dara Dinanti. Ganti saja namaku dengan Dara Dzikra, Mak, katanya. Aku pun tidak dapat menjawab dan tidak berani lagi untuk menanyakan mengapa dia ingin mengganti namanya,” katanya, lagi.

Suatu kali Farhan pernah bercerita kepada neneknya kalau ia pernah diberitahu orang tentang ayahnya. Orang itu berkata, “Farhan, orang semua di gunung sudah turun. Kenapa ayah kamu belum turun? Ayah kamu sudah dibunuh.”

la kaget. Ia lantas berkata pada ibunya bahwa orang yang berbicara seperti itu pada Farhan tidak memiliki otak, karena sudah menjelaskan yang bukan-bukan.

“Keberadaan suamiku pun saat ini masih saja menjadi misteri. Berbagai pertanyaan apakah ayahanda masih hidup atau sudah meninggal masih saja menyelimuti pikiran kami. Bahkan Dara, anakku yang terkecil, pernah bertanya kepadaku di mana kuburan ayahnya,” ujarnya.

“Mak, kalau orang meninggal pasti ada kuburannya. Kenapa ayahanda tidak ada kuburannya?” kata Dara suatu kali.

la ingin menangis mendengar pertanyaan putrinya ini. la hanya bisa meminta Dara berdoa, “Nanti ayahanda akan menunggu kita di pintu surga.” Di lain waktu ia mengatakan pada Dara bahwa ayah mereka hilang saat bekerja di kantor.

Dara yang cerdas melontarkan membuatnya tak bisa berkata apa-apa lagi, “Kalau ayahanda pernyataan yang hilang di kantor, yuk… kita lihat kuburannya di kantor.”

Perawakan Muhammad tinggi tegap. Kumis tebal, kulit hitam, rambut keriting bergelombang. Ia masih ingat betapa tampan suaminya. Lelaki itu baru berusia 36 tahun saat hilang. Usianya sendiri 35 tahun sekarang

Selama berumah tangga, ia tak pernah melihat suaminya marah. Muhammad bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di satu kantor pemerintahan yang mengurusi kelautan dan perikanan. Kadang-kadang Muhammad juga dapat giliran jaga kantor di malam hari. Giliran jaga kantor itu biasanya seminggu dua kali. Kalau kebagian tugas jaga, ia berangkat pukul enam sore dari rumah dan pulang ke rumah esok harinya, pukul enam pagi.

Muhammad mengisi waktu senggangnya dengan beternak lembu. Tiap hari, sepulang dari kantor, ia menyempatkan diri menengok kandang lembu. Sebelum memelihara lembu, ia bahkan sudah menanam rumput behering (sejenis pohon tebu) untuk makanan binatang itu. Suaminya memang bercita-cita memiliki lembu.

Sore hari, 9 Juni 2003, Muhammad berangkat ke kantor untuk jaga malam. Hatinya waswas, karena sudah seminggu ini suaminya dapat giliran jaga malam. Namun, suaminya mengatakan bahwa itu sudah tugasnya dan ia tak bisa menolak.

Esok hari, 10 Juni 2003, suaminya belum juga pulang, meski jam sudah menunjukkan pukul 16.00.

Aku pun mulai bertanya-tanya dalam hati, ke mana suamiku. Pikiranku pun mulai melayang ke mana-mana. Mulai dari ayahanda yang belum pulang, sampai lembu yang belum diberi makan di kandang,” kenangnya.

la tak bisa memberi makan lembu itu, karena baru saja melahirkan Dara. Sebentar kemudian ia mencoba menghubungi pamannya yang seorang polisi. Ia meminta sang paman menelepon ke kantor suaminya. Tapi tiba-tiba listrik padam. Pamannya tak bisa langsung menelepon. Listrik kembali menyala di malam hari. Pada pukul delapan, pamannya menghubungi kantor suaminya. Namun, jawaban orang di kantor justru membingungkan dan membuat ia tambah gelisah. Suaminya ternyata sudah kembali sejak pukul enam pagi. Pamannya mencoba menghubungi kantor polisi dan mencari informasi. Pada pukul satu dini hari, sang paman memberitahunya bahwa suaminya tak berada di kantor Brigadir Mobil atau Brimob, salah satu tempat nahanan orang di masa itu.

la pantang menyerah. Ia meminta ayahnya pergi menemui orang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ayahnya pun mendatangi panglima sagoe (setingkat kecamatan) dan bercerita bahwa menantunya belum pulang ke rumah. Pihak GAM mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa-apa soal itu. 

Pikirannya terus diselimuti tanda tanya. Di mana ayahanda sekarang? Bagaimana keadaannya? Kalau ia diculik, siapa yang menculik? Mengapa ia harus diculik? Tiap kali pertanyaan-pertanyaan tadi memasuki benaknya, ia selalu menangis.

Tiga hari setelah suaminya hilang, ia sempat bermimpi. Ia melihat suaminya diantar tiga anggota GAM ke rumah. Dalam mimpinya itu mereka berkata hendak mengembalikan suaminya dan sepeda motor. Tapi ia menolak. Dengan alasan, ia sudah banyak mengeluarkan air mata. Mimpi hanyalah bunga tidur. Ia tidak yakin apakah benar GAM yang membawa suaminya atau justru pihak lain.

Berselang beberapa hari, pasukan Raider datang. Mereka mendirikan pos dekat desanya, di Cepres-Jomblang. Pos mereka satu kecamatan dengan desanya. Saat itu, setiap warga desa harus mengibarkan bendera merah putih di muka rumah. Ia mematuhi permintaan tentara.

Ia memancang tiang bendera percis di depan rumah balee, Tentara-tentara itu kemudian menghampirinya. Salah seorang menodong kepalanya dengan senjata laras panjang dan bertanya di mana suaminya. Kakaknya yang menyaksikan kejadian itu sangat ketakutan.

Mereka membentaknya, lalu berkata, “Suami kakak ke gunung yah!”

Ia menjawab suaminya hilang, bukan ke gunung Mereka masih tidak percaya. Ia lantas menunjukkan surat dari kepolisian yang menyatakan bahwa suaminya hilang Tentara-tentara itu segera minta maaf.

Mereka membentaknya, karena ia memancang tiang bendera di rumah balee. “Ini tidak pantas. Apa sudah tidak mau tinggal di Indonesia?” kata mereka. Ia balas bertanya, di mana tempat yang pantas untuk memasang tiang bendera. Lalu mereka memindahkan tiang bendera tadi ke muka pagar rumahnya. “Di sini tempat yang pantas mendirikan tiang bendera,” kata tentara-tentara itu.

Komandan pasukan menghampirinya dan berkata, “Kakak yang namanya Fatmawati yah, yang hilang suami.”

Ia heran, bagaimana tentara itu bisa mengetahui namanya.

Tanpa menjelaskan bagaimana mengetahui namanya, sang komandan bertanya lagi, “Tahu siapa yang menculik suami kakak?”

Tentara itu menyebut empat nama. Ia diminta menghapal nama-nama mereka, tapi kini ia sudah lupa. “Mereka yang bunuh suami kakak,” katanya. Ia balik bertanya, dari mana sang komandan tahu empat orang itu sudah membunuh suaminya. Komandan pasukan itu menjawab, beberapa waktu lalu mereka menangkap orang GAM yang memberitahu bahwa GAM telah menculik suaminya. Entah benar, entah tidak. Ia tak langsung percaya.

Sebulan kemudian, keluarga suaminya mendapat surat kaleng, Surat kaleng tersebut dikirim ke rumah abang iparnya.

“Abang iparku pun datang ke rumah kami dan memanggil kami semua. Isi dari surat kaleng tersebut, ‘jangan bilang-bilang lagi kalau diculik sama GAM atau sama yang lainnya!’. Mendengar isi surat kaleng itu, adikku hampir pingsan. Aku hanya memikirkan bagaimana nasib anak-anakku kalau nantinya ada apa-apa,” tuturnya.

Perdamaian di Aceh akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi orang Aceh. Keyakinan itu hadir di benaknya. Ia sudah memaafkan mereka menculik suaminya, meskipun tidak akan melupakan peristiwa itu.

la hanya ingin tahu di mana kuburan suaminya. Perasaannya mengatakan bahwa suaminya sudah tak ada lagi. Ia tidak ingin menuntut apa-apa dari mereka yang menghilangkan suaminya, selain menunjukkan kuburan lelaki yang amat dicintainya dan ayah bagi anak-anaknya itu.

Sepeninggal sang suami, ia mengandalkan kebun seledri dan sedikit uang pensiun suaminya untuk menghidupi keluarga. Kadangkala, ia ikut menanam padi di sawah orang. Lembu yang sudah dua tahun dipelihara suaminya ia jual pada abang ipar untuk menutupi kebutuhan keluarga.

Bantuan modal usaha sempat ia peroleh dari bupati. Besar bantuan Rp 3 juta dan diberikan dalam tiga tahap. Bantuan tahap akhir belum ia ambil.

Usaha bertanam seledri dimulainya pada 2006. Uang hasil penjualan tanaman ini lumayan besar. Dari hasil penjualan seledri, ia juga menabung untuk berangkat haji ke Mekah. Ia ingin memohon bantuan Allah di tanah suci, agar menunjukkan di mana kuburan suaminya.

Kehidupan keluarganya tak berkekurangan, tapi jauh berbeda dibanding saat suaminya masih ada. Farhan, si sulung, melontarkan protes ketika ia membeli jeruk, “Mak, kalau ada ayahanda, kita tidak pernah membeli jeruk yang kecil-kecil, selalu yang besar.” Ia lantas menjelaskan pada anak-anaknya bahwa kebiasaan-kebiasaan dulu harus berubah saat ini. Banyak lagi ungkapan protes Farhan yang membuatnya sedih. Namun, itu menandakan bahwa telah terjadi perubahan drastis dalam kehidupan keluarganya sejak suaminya hilang.

Tinggalkan Balasan