{"id":1090,"date":"2021-01-27T09:40:02","date_gmt":"2021-01-27T02:40:02","guid":{"rendered":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/?p=1090"},"modified":"2021-02-05T10:24:44","modified_gmt":"2021-02-05T03:24:44","slug":"endapan-trauma-usai-aparat-membakar-tiro","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/endapan-trauma-usai-aparat-membakar-tiro\/","title":{"rendered":"Trauma Settled after Apparatus Burnt Tiro"},"content":{"rendered":"\n<h6 class=\"wp-block-heading\" style=\"font-size:clamp(14px, 0.875rem + ((1vw - 3.2px) * 0.234), 17px);px\"><em>Penulis adalah penerima fellowship dari pelatihan HAM, media dan keadilan transisi yang diselenggarakan oleh AJI Banda Aceh, KontraS Aceh, LBH Banda Aceh dan AJAR.<\/em><br>[Diky Zulkarnen\/Sinar Pidie]<\/h6>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-text-color has-background has-palette-color-3-background-color has-palette-color-3-color is-style-default\"\/>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pada Selasa, 24 Juli 2000 pagi, Aminah Ali, 65 tahun, bersama dua puluh perempuan meninggalkan Gampong Pulo Keunari. Mereka berjalan kaki, berbaris sejauh tiga kilometer menyeberangi Sungai Tiro melalui jembatan gantung dan melewati Lhok Panah. Tujuan mereka menuju Gampong Cot Murong, Kecamatan Sakti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Mereka hendak berkunjung ke tujuh rumah warga yang meninggal dunia. Harusnya ada satu rumah duka yang tersisa, tapi mereka dihentikan oleh salak senjata yang terdengar dari arah Pulo Keunari, kampung mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">\u201cSetelah mendengar suara letusan senjata, kami memilih berdiam diri beberapa waktu di rumah keenam,\u201d kata Aminah Ali, Senin, 19 Januari 2021.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Setelah letusan senjata reda, Aminah Ali dan rombongan memutuskan untuk langsung pulang ke Pulo Keunari. Mereka tiba sekitar pukul 15.00 WIB dan mendapati sebagian besar rumah mereka sudah hangus terbakar. Kampung kosong dari penghuni laki-laki. Mereka melarikan diri ke pegunungan Cot Rheng, Cot Cukok, dan ke Gle Sala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Selain puing, perempuan-perempuan itu menemukan tiga jasad laki-laki. \u201cDua jasad warga gampong kami. Teungku Makam dan M Yusuf,\u201d kata Aminah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Tengku Makam yang sudah berusia renta berada di dalam rumah saat pasukan Brimob membakar rumahnya. M Yusuf, saat itu berumur 21 tahun, jatuh tertembak. Korban lain, Teungku Rasyid Batee, seorang penjual garam keliling dari Batee yang waktu itu melintasi Tiro dengan mengayuh sepeda ontel, oleh Brimob, dilempar ke dalam kobaran api.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"644\" src=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-aminah-ali-1024x644.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1091\" srcset=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-aminah-ali-1024x644.jpg 1024w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-aminah-ali-300x189.jpg 300w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-aminah-ali-768x483.jpg 768w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-aminah-ali-16x10.jpg 16w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-aminah-ali.jpg 1143w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Aminah Ali, 65 tahun. (sinarpidie.co\/Diky Zulkarnen).<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya, kami menggali dua kuburan untuk memakamkan mereka,\u201d kata Aminah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Sedangkan jenazah Rasyid dipulangkan kepada keluarganya di Batee \u2013&nbsp; sekitar tiga puluh kilometer dari Tiro. Brimob BKO Tiro membakar 25 unit rumah, 27 unit kedai, dan satu unit kilang padi di Gampong Pulo Keunari, Selasa, 24 Juli 2000. Selain itu, Brimob juga membantai ternak-ternak warga.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Bumi hangus itu diawali oleh tertembaknya dua Brimob BKO Tiro dari Resimen II Pelopor di Tugu Gampong Pulo Keunari pada hari yang sama. Kesatuan ini ditempatkan di kompleks Mapolsek Tiro\/Truseb di Gampong Mancang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"651\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-infografis-651x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1092\" srcset=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-infografis-651x1024.jpg 651w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-infografis-191x300.jpg 191w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-infografis-768x1207.jpg 768w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-infografis-8x12.jpg 8w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-infografis.jpg 850w\" sizes=\"auto, (max-width: 651px) 100vw, 651px\" \/><figcaption>Infografis sinarpidie.co.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pulo Keunari berada di selatan Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie, atau dapat ditempuh sekitar 40 menit menggunakan kenderaan bermotor dari jalan Banda Aceh-Medan. Luas kampung ini sekitar 8.96 kilometer persegi dan dikelilingi oleh sawah-sawah penduduk. Umumnya penduduk bekerja sebagai petani.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">\u201cJumlah penduduk di Pulo Keunari pada tahun 2001 diperkirakan lebih kurang 500 jiwa, terdiri dari 200 pria dan 300 perempuan,\u201d kata Ilyas, Keuchik Gampong Pulo Keunari,&nbsp;Senin, 19 Januari 2021.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"535\" src=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-1024x535.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1093\" srcset=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-1024x535.jpg 1024w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-300x157.jpg 300w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-768x401.jpg 768w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari-16x8.jpg 16w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-pulo-keunari.jpg 1102w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro\/Truseb, Pidie. (sinarpidie.co\/Diky Zulkarnen).<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Dua puluh tahun setelah bumi hangus itu, penduduk bertambah sekitar 100 jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Setelah bumi hangus Pulo Keunari, keesokan harinya Brimob berbaris menuju Dusun Labo Adang, Gampong Peunadok. 27 unit rumah di Dusun Labo Adang ludes terbakar. Di hari yang sama, mereka juga membakar 25 unit rumah, satu kilang padi, dan satu kedai di Dusun Peulandok, Gampong Pulo Glumpang. Keduanya masih di Kecamatan Tiro.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>KABAR bahwa Brimob telah memasuki Dusun Peulandok, Gampong Pulo Glumpang, Kecamatan Tiro\/Truseb, sampai ke telinga Nurhayati, 56 tahun. Hari itu dia sedang berselonjor di balai bambu halaman rumahnya. Dia saat itu bersama dua anaknya, Sitihawa dan Aswadi, serta sepupunya, Raimah. Nurhayati segera menggiring kedua anaknya masuk ke rumah, sedangkan Raimah pulang ke rumahnya. Adapun lima perempuan lain juga masuk ke dalam rumah Nurhayati.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMereka memilih masuk ke rumah saya, karena rumah saya semi permanen. Bila terjadi penembakan, mereka berpikir bisa bersembunyi di balik tembok rumah,\u201d kata Nurhayati, Selasa, 19 Januari 2021.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak lama kemudian, Brimob tiba di depan rumah Nurhayati. Personel pada satuan elite Polri ini melempari kaca rumah Nurhayati hingga pecah. \u201cBuka pintu! Buka pintu!\u201d ujar Nurhayati, menirukan ucapan salah seorang personel Brimob saat itu.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurhayati.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1094\" srcset=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurhayati.jpg 1024w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurhayati-300x169.jpg 300w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurhayati-768x432.jpg 768w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurhayati-16x9.jpg 16w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Nurhayati, 56 tahun. (sinarpidie.co\/Diky Zulkarnen).<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Nurhayati lantas membuka pintu. Seorang personel Brimob masuk ke dalam rumah. Brimob itu memerintahkan perempuan-perempuan yang berada di dalam rumah, termasuk anak-anak, keluar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">\u201cSaya tidak dibolehkan keluar. Saya tinggal sendiri di dalam rumah,\u201d kisah Nurhayati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Penasaran dengan apa yang terjadi di luar, Nurhayati bangkit dari tempat duduknya untuk melihat keluar. Namun, salah seorang personel Brimob mengayunkan popor senjata ke wajah Nurhayati. Nurhayati tidak menyerah. Dia kembali melongok keluar. Kembali si Brimob itu mengayunkan popor senjata. Lima kali pula popor senjata menghantam wajah Nurhayati.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cEmpat gigi saya copot,\u201d kata Nurhayati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Nurhayati tetap tidak menyerah. Dengan wajah berlumuran darah dia menerobos kepungan Brimob agar bisa keluar dari rumah. Dia berlari menuju rumah tetangganya yang terpaut sekitar dua puluh meter dari tempat dia dikepung. Di rumah tetangganya itu, dia melihat kedua anaknya serta sejumlah perempuan lainnya telah dibariskan. Mereka dibariskan di bawah sebatang pohon kelapa. Lalu, Brimob menembak buah kelapa. Tujuannya: agar buah kelapa jatuh menimpa kepala perempuan-perempuan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Bosan dengan permainan itu, Brimob kemudian membiarkan para perempuan tersebut pergi. Lalu mereka melanjutkan membakar rumah penduduk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Hari itu juga, Nurhayati, kedua anaknya, dan sepupunya meninggalkan Pulo Glumpang dengan berjalan kaki. Mereka mencari perlindungan ke Gampong Usi Campli, Kecamatan Mutiara Timur, yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari kampung mereka. Maharaja, 67 tahun, suami Nurhayati, menyambut istri dan dua anaknya dengan pelukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dua hari kemudian, Nurhayati dan keluarganya pulang ke Peulandok. Karena rumah mereka yang telah menjadi puing, untuk sementara waktu, mereka menumpang di rumah kerabat yang selamat dari bumi hangus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Nurlaili, 43 tahun, warga Gampong Pulo Keunari, juga melakukan hal yang sama. Hari-hari setelah bumi hangus dia berlindung di rumah salah satu warga yang selamat dari amuk militer Indonesia. \u201cDi sana, kami tidur berdesak-desakan dalam satu rumah,\u201d katanya, Senin, 19 Januari 2021.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"558\" src=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurlaili-1024x558.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1095\" srcset=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurlaili-1024x558.jpg 1024w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurlaili-300x164.jpg 300w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurlaili-768x419.jpg 768w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurlaili-16x9.jpg 16w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-nurlaili.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Nurlaili, 43 tahun. (sinarpidie.co\/Diky Zulkarnen).<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Sementara, perempuan-perempuan dari Labo Adang, Gampong Peunandok, mengungsi ke Meunasah (Surau) Labo Adang selama tiga bulan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">\u201cSaat itu kami menjalani hidup dengan saling berbagi makanan, pakaian, dan apapun yang bisa dibagi,\u201d kata Warni Idris, 48 tahun, warga Dusun Labo Adang, Gampong Peunandok.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Setelah bumi hangus Tiro, hampir setiap pagi Brimob memasuki kampung-kampung di sana. Mereka juga datang ke pengungsian di Meunasah Labo Adang. Tujuan mereka menanyakan keberadaan anggota GAM. Aminah Ali mengatakan, pemuda yang sudah ber-KTP memilih meninggalkan Pulo Keunari dan sebagian besar gampong lainnya di kecamatan Tiro.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKeluarga mengirim mereka untuk tinggal di rumah sanak saudara yang berada di Banda Aceh, Sigli, dan Lhokseumawe,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Pada 2002, rumah-rumah penduduk yang dibakar dan dihancurkan oleh Brimob pada Resimen Pelopor dibangun kembali oleh pemerintah. Pemilik kedai diberi uang ganti rugi Rp 45 juta per unit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Namun, bantuan itu melupakan satu hal. \u201cKami tidak memperoleh pendampingan untuk pemulihan trauma setelah peristiwa itu. Semua berlalu begitu saja seiring berlalunya waktu,\u201d tutur Nurlaili.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Tiga bulan sejak bumi hangus Pulo Glumpang, Nurhayati mengatakan beberapa kali dia salah mengikuti arah kiblat saat ia mendirikan salat. \u201cTiga bulan lebih saya ketakutan. Pada bulan kempat, saya pergi berobat ke dokter di Kecamatan Sakti. Saat diperiksa, dokter bilang saya mengalami ketakutan dan trauma,\u201d kata Nurhayati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Aminah Ali berharap kejadian serupa tak terulang lagi. \u201cTrauma kami tidak pernah hilang jika teringat kejadian itu. Namun, kami hanya bisa meminta dan berdoa kepada Allah agar peristiwa seperti ini tidak kembali terulang,\u201d kata Aminah Ali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dia berharap tidak ada lagi kekerasan dan teror dalam hidup mereka. \u201cBiarlah hidup kami di sini aman dan damai sehingga kami bisa bebas bekerja dan mencari rezeki di gunung dan sawah,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Koordinator Yayasan Pulih Aceh, Dian Marina, 48 tahun, mengatakan setiap orang yang pernah ditangkap, diinterogasi, diancam, dibentak, dan menyaksikan peristiwa kekerasan yang luar biasa di masa konflik bersenjata antara GAM dan Pemerintah Indonesia, memiliki ketahanan atau resiliensi yang berbeda-beda antara satu dan yang lain. \u201cResiliensi ini sangat tergantung pada masing-masing orang yang pernah mengalami kekerasan di masa lalu dan skala peristiwa,\u201d katanya pada Minggu, 24 Januari 2021.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Secara umum, korban yang pernah mengalami dan menyaksikan kekerasan di masa lalu bisa saja akan mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma. \u201cSampai sekarang, gambaran tentang peristiwa itu masih ada dan tak pernah hilang di dalam kepalanya. Di permukaan memang tidak terlihat, tapi jika ada pemicu, gambaran peristiwa tersebut akan muncul kembali. Misalnya, ada yang bertanya-tanya tentang peristiwa dulu, kemudian, misalnya, yang pukul dulu berbaju loreng, saat dia melihat baju loreng, ingatannya tentang peristiwa dulu bisa muncul kembali, dan dia histeris,\u201d kata Dian, menjelaskan dampak pertama.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"554\" src=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-kilang-padi-1024x554.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1096\" srcset=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-kilang-padi-1024x554.jpg 1024w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-kilang-padi-300x162.jpg 300w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-kilang-padi-768x416.jpg 768w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-kilang-padi-16x9.jpg 16w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-kilang-padi.jpg 1064w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Bekas kilang padi yang dibakar Brimob pada&nbsp;Selasa, 24 Juli 2000. (sinarpidie.co\/Diky Zulkarnen)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Selain itu, dampak yang dialami korban adalah kehilangan konsentrasi dan kepekaan. \u201cJika dia melihat orang dipukul, dia akan biasa-biasa saja. Sudah mati rasa,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Dampak ketiga, menurut Dian, adalah rusaknya interaksi dan hubungan sosial. \u201cKorban tidak suka ditanya-tanya, dan dia tidak suka berada di keramaian,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Jika trauma yang dialami oleh para korban ini tidak dipulihkan, kata dia lagi, hal itu akan berdampak pada perubahan karakter sehingga kekerasan yang pernah dialami, dilihat, dan pernah dilakukan akan berpindah ke ruang domestik. \u201cDi daerah bekas konflik, orangtua yang memukuli anak mereka agak mengerikan,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Semestinya, para korban kekerasan di masa lalu, harus ditangani oleh psikolog atau psikiater. \u201cTrauma mereka (korban) harus dibongkar. Harus ada upaya pemulihan,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignwide size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"651\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-infografis-tiro-651x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1097\" srcset=\"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-infografis-tiro-651x1024.jpg 651w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-infografis-tiro-191x300.jpg 191w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-infografis-tiro-768x1207.jpg 768w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-infografis-tiro-8x12.jpg 8w, https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-infografis-tiro.jpg 850w\" sizes=\"auto, (max-width: 651px) 100vw, 651px\" \/><figcaption>Infografis sinarpidie.co.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">Namun Dian, yang telah bergelut di bidang psiko sosial selama 16 tahun, menunjukkan ada masalah besar yang dihadapi Aceh untuk pemulihan korban konflik. Menurut Dian, kendala utama sekarang adalah rasio korban konflik yang jumlahnya ribuan berbanding terbalik dengan jumlah tenaga yang sangat terbatas. Dia mengatakan, upaya lembaganya dalam menutupi ketimpangan tersebut salah satunya melalui pemulihan psiko sosial berbasis komunitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify\">\u201cPemulihan psiko sosial mengandalkan resiliensi korban untuk bertahan dan dukungan keluarga, lingkungan, serta orang terdekat korban. Jadi resiliensi korban yang dikuatkan. Tapi pemulihan tersebut tidak dapat memulihkan secara total seperti sediakala,\u201d tuturnya. []<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber : <a href=\"https:\/\/sinarpidie.co\/aksara\/endapan-trauma-usai-aparat-membakar-tiro\/index.html\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">sinarpidie.co<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis adalah penerima fellowship dari pelatihan HAM, media dan keadilan transisi yang diselenggarakan oleh AJI Banda Aceh, KontraS Aceh, LBH Banda Aceh dan AJAR.[Diky Zulkarnen\/Sinar Pidie] Pada Selasa, 24 Juli 2000 pagi, Aminah Ali, 65 tahun, bersama dua puluh perempuan meninggalkan Gampong Pulo Keunari. Mereka berjalan kaki, berbaris sejauh tiga kilometer menyeberangi Sungai Tiro melalui [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":1096,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"advanced_seo_description":"","jetpack_seo_html_title":"","jetpack_seo_noindex":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[39,42],"tags":[17,93,92],"class_list":["post-1090","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-penyiksaan","category-pinto-sa","tag-konflik-aceh","tag-pembakaran","tag-tiro"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/20210125-kilang-padi.jpg","jetpack_likes_enabled":true,"jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1090","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1090"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1090\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1165,"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1090\/revisions\/1165"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1096"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1090"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1090"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/museumham.kontrasaceh.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1090"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}