CATATAN KURATOR

Pameran vitual Lorong Ingatan ini hadir untuk melepas wacana yang ditahan, sebagai upaya mengingat pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu di Aceh dalam kurun waktu 1989 – 2005. Kita mungkin bangga dengan kata resistance, melawan. Sebetulnya apa yang kita lawan? Apakah betul kezaliman atau kebodohan? Barangkali kita terus berperang karena ada yang luput dari pembelajaran kita terhadap sejarah.

Pameran ini menghadirkan empat tema besar: penghilangan paksa, penyiksaan, pembantaian massal, dan pembunuhan tokoh Aceh. Keempat tema ini terdengar mengerikan. Namun faktanya itulah yang terjadi. Pertanyaannya, bagaimana menghadirkan realitas dengan tidak menimbulkan trauma, namun juga tidak menghilangkan substansi?

Kisah-kisah dalam pameran virtual ini disajikan dengan melalui beberapa medium. Seperti kisah pembantaian yang disampaikan melalui teks cerita. Untuk bagian pembunuhan tokoh Aceh dihadirkan melalui gambar bergerak. Selain itu, juga ada infografis hasil riset tentang penghilangan orang secara paksa. Cerita-cerita yang hadir diusahakan menjadi seringan mungkin dengan tidak mengabaikan substansi.

Pameran ini melibatkan, seniman, dan para generasi muda yang berminat di isu kemanusiaan. Terutama mereka yang mengikuti sikula HAM, sebuah program tahunan untuk anak muda mempelajari isu-isu kemanusiaan.  Mereka hadir dari berbagai latar belakang. Ada penyiar, jurnalis, seniman muda dan mahasiswa. Kita juga percaya kaum muda lebih paham dengan dunia mereka.

Upaya yang dilakukan dalam pameran virtual ini adalah bagian dari kerja-kerja pengetahuan untuk memunculkan rasa ingin tahu. Selain itu, ini diharapkan menjadi medium belajar, terutama terhadap wacana yang belum begitu hadir dalam ruang-ruang kelas.

Tinggalkan Balasan